Jumat, 24 Februari 2012

PERIODISASI SEJARAH ISALAM


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Secara objektif dapat dikatakan bahwa sejarah hanyalah mempengaruhi masa yang akan datang, dengan kata lain aliran modern dalam Islam pasti mempunyai kaitan dengan sejarah Islam sebelumnya baik dari Nabi dan seterusnya. Hal yang dapat dipahami bahwa Islam pra dewasa ini tidak luput dari sejarah Islam masa lalu (baca: masa Rasulullah) yang cukup panjang untuk diuraikan satu persatu, oleh sebab itu perlu kiranya kami membahas hal yang dianggap berkaitan dengan hal tersebut yang merupakan materi dari perkuliahan kita, yaitu seputar tentang keadaan keilmuan Islma pada periode klasik yang meliputi empat unsur pokok.
Pertama, masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin, bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Kedua, periode pertengahan yaitu masa tiga kerajaan besar, Turki Utsmani, Dawlah Shafawiyah, dan Dawlah Mongholiah di India. Dan ketiga, periode modern yaitu pada 1800 sampai dengan sekarang, dilanjutkan dengan pembahasan yang ada kaitannya dengan keadaan Indonesia pada saat itu yang juga meliputi tiga hal, periode mitos, politik, dan ilmu. Beberpa sub pembahasan di atas memang kedengarannya sangat familiar di telinga kita ketika berada dalam ranah sejarah, tetapi perlu kiranya digaris bawahi bahwa dalam aliran modern dalam Islam tidak akan melupakan proses terbentuknya aliran tersebut. Dan untuk lebih rincinya marilah kita bahas bersama bab-baba selanjutnya.
B.     Rumusan Masala
1.    Bagaimana perkembangan Islam pada periode klasik, pertengahan dan modern?
2.    Bagimana keadaan Islam Indonesia pada periode mitos, ideologi dan ilmu?
BAB II
DUNIA ISLAM PADA PERIODE KLASIK, PERTENGAHAN DAN MODERN
A.    Periode Klasik (650-1250 M)
Periode ini ditandai dengan adanya masa kemajuan Rasulullah SAW, Khulafaurrasyidin, Bani Umayyah, dan masa-masa permulaan Dawlah Abbasiyah. Semenjak Rasululah hijrah dar kota Mekkah ke Madinah. Islam pada saat itu telah mengalami awal kemajuan, yaitu dengan adanya proklamasi berdirinya sebuah negara dengan nama Madinah al-Munawwarah bagi kota Yatsrib, kemudian mendirikan masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan umat Islam, mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar yaitu persaudaraan berdasarkan agama sebagai basis warga negara, membuat undang-undang dan peraturan berdasarkan perjanjian-perjanjian yang terkenal dengan istilah Traktat Madinah, membuat batas wilayah sebagai basis teritorial dengan membuat parit pada waktu perang Khandaq, membua lembaga-lembaga pelengkap sebuah pemerintah, semisal angkatan perang, pengadilan, lembaga pendidikan, bait al-mal, lembaga yang mengatur administrasi negara serta menyusun ahli-ahli yang cakap yang bertindak sebagai pendamping Nabi.[1] Tetapi, sebelum Nabi hijrah beliau telah membuat suatu tempat pertemuan di rumah sahabat Abu al-Arqam, di luar kota mekah. Di situlah Rasulullah berdakwah dan sekaligus membimbing dan mendidik umat Islam awal sehingga tempat itu dapat dianggap sebagai lembaga pendidikan yang didirikan oleh Rasul. Melalui usaha-usaha tersebut Islam mulai berkembang, dalam 23 tahun Rasul telah mengubah bangsa Arab dari bangsa Jahiliyah menjadi bangsa yang berperadaban dengan jiwa yang Islami, bersatu, berakhlaq mulia, dan berpengetahuan. Saat itulah Peradaban Islam lahir.
Setelah Rasulullah wafat, Khulafaurrasyidin menggatikan kedudukan beliau sebagai pengelola negara dengan Khalifah pertama yaitu Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thallib. Di antara empat khalifah tersebut, ternyata Umar bin Khattab mempunyai kedudukan istimewa yang terletak pada kemampuannya berpikir kreatif kebrilianan beliau dalam memahami sariat islam, sangat jenius dalam menata lembaga pemerintahan, cerdik dalam mengatur negara yansudah demikian luas dan lihai dalam menghadapi masalah baru yang belum pernah timbul pada masa Rosulullah dan khalifah Abu Bakar yaitu denga berijtihad untuk: untuk menetapkan hukum terhadap masalah-masalah baru, untk memperbaharui organisasi negara,dan mengembangkan ilmu. Selaian itu setelah menjadi kepala negara Umar mengubah nama kepala negara yang semula berglar Khulafaurrasidin menjadi Amir Al-mukminin.Umar melanjutkan perluasan wilayah ke tiga arah yaitu ke utara menuju wilayah Syria di bawah piminan Abu Ubaidah Ibnu Jarrah. Ke barat menuju mesir di bawah pimpinan Amr Ibn Al-‘Ash. Dan ke timur kewilayah Irak di bawah pimpinan Surahbil bin Hasanah. Tetapi usaha-usaha mulia khalifah Umar tidak berlangsung lama karena Umar terbunuh oleh orang yang sakit hati kepadanya, sekalipun demikian Umar diakui oleh sarjana muslim dan non muslim bahwa beliau adalah orang kedua setelah nabi yang paling menentukan jalan kebudayaan Islam.
Setelah masa Khulafaurrasyidin, kepemimpinan daulah Islamiyah berada sepenuhnya kepada bani Umayyah dengan Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai pelopornya, dan sistem kepemimpinannya bersifat monarki. Dalam usahanya untuk memajukan negaranya Muawiyah melakukan berbagai langkah-langkah di antarnya mengembangkan ilmu pengetahuan, jika masa Nabi dan Khulafaurrasyidin perhatian terpusat kepada al-Quran dan Hadits, maka lain halnya dengan masa pemerintahan Muawiyah yang tepusat kepada ilmu-ilmu yang diwariskan oleh bangsa-bangsa sebelum muculnya Islam yang sudah berada dalam kekuasaan Islam pada saat itu, seperti Yunani Iskandariyah, Antiokiah, Harran, Yunde Sahpur, yang kemudian peradaban bangsa-bangsa tersebut dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam yang sebelumnya beragama Yahudi, Nasrani, Zoroaster. Bahkan di antara ilmuwan tersebut ada yang mendapatkan jabatan tinggi di istana khalifah, dengan menjadi dokter pribadi, bendaharawan, atau wazir, sehingga kehadiran mereka sedikit banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan pada saat itu.
Keikut sertaan ilmuwan nonmuslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan, menjadikan ilmu pengetahuan pada saat itu lebih sistematis. Selain itu, ulama-ulama yang dikirm oleh khalifah Umar pada saat pemerintahannya menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan pada saat itu bisa dibilang pesat, terbukti sistem yang sebelumnya menggunakan hafalan, pada saat itu berubah menjadi sistem tulisan menurut aturan-aturan ilmu pengetahuan yang berlaku. Ilmu pengetahuan juga telah mengalami pembidangan atau penklsifikasian, yaitu;
1.    Ilmu pengetahuan bidang agama, meliputi segala ilmu yang bersumber dari al-Quran dan hadits.
2.    Ilmu pengetahuan bidang sejarah, meliputi segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat.
3.    Ilmu pengetahuan bidang bahasa, meliputi segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu, sharraf,dan lain-lain.
4.    Ilmu pengetahuan bidang filsafat, meliputi segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq, kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung, dan ilmu lain yang berhubungan dengan ilmu itu.
Dengan demikian ilmu pengetahuan sudah merupkan satu keahlian, masuk ke dalam bidang pemahaman dan pemikiran yang memerlukan pada sistematika dan penyusunan.
Namun kepemimpinan bani umayyah tidak berlangsung lama, hal itu disebabkan terjadinya kekacauan-kekacaun yang disebabkan penindasan yang terus menerus terhadap pengikut Ali dan bani hasyim pada umumnya, juga merendahkan kaum muslimin yang  bukan bangsa Arab sehingga mereka tidak di beri kesempatan dalam pemerintahan,  juga adanya pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan. Oleh sebab itu muncullah gerakan rahasia yang dipelopori oleh bani hasim yang menghimpun keturunan Ali (Allawiyyin) dengan pemimpin Abu Salamah, keturunan Abbas (Abbasiyah) yang di pimpin oleh Ibrahim Al-Imam, gerkan tersebut berpusat di Khurasan. Pada tahun 132 H/750 M tumbanglah bani umayyah dengan terbunuhnya Marwan bin Muhhammad sebagai khalifah terahir. Dengan terbunuhnya marwan mulailah berdiri daulah bani Abbasiyah dengan di anggkatnya khalifah pertama yang bernama Abdullah Bin Muhammad dengan gelar Abu al-Abbas al-Aaffah, pada taun 132-136H/750-754M.
Perkembangan pengetahuan pada masa daulah bani Abbasiyah secara besar-besaran di rintis oleh khalifah Ja’far  Al Mansur, setelah ia mendirikan kota Bagdad (144H/762M) dan menjadikanya sebagai ibu kota negara. Dia merangsang pembukuan ilmu agama, bahasa dan sejarah dengan cara menarik para ulama’ dan para ahli dari berbagai daerah untuk datang dan tinggal di Bagdad. Akan tetapi hal yang lebih mendapatkan perhatian adalah penerjemahan buku yang berasal dari luar.
Pada saat ini penggolongan ilmu pengetahuan dapat di bedakan menjadi dua yaitu ilmu naqli dan ilmu aqli. Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari al-Quran dan Hadits, yaitu ilmu yang berhubungan dengan agama. Ilmu ini mulai di susun dasar perumusannya sekitar 200 tahun setelah hijrah nabi sehingga menjadi ilmu yang kita kenal, seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa dan ilmu fiqih. Sedangkan ilmu aqli adalah ilmu yang didasarkan kepada pemikiran (rasio). Ilmu yang tergolong dalam jenis ini kebanyakan di kenal umat Islam berasl dari terjemahan asing; Yunani, Persia dan India. Memang dalam al-Quran terdapat dasar-dasar ilmu tersebut, tetapi umat Islam mengenal ilmu tersebut setelah mempelajari buku-buku terjemahan asing. Yang termasuk dalam golongan ilmu ini antara lain kedoktern, kimia, filsafat, fisika, tata negara, musik, astronomi dan ilmu hitung.
Demikianlah masa klasik peradaban Islam di dunia sejak Rasulullah sampai permulaan daulah Abbasiyah yang merupakan masa keemasan perkembangan Ilmu pengetahuan sebelum kemudian masa daulah Abbasiyah melemah dan hengkangnya beberapa negara provensi untuk menyaingi kekuatan-kekuatan baru untuk menyaingi Abbasiyah.
B.     Periode Pertengahan (1250-1800 M.)
Pada periode ini terjadi dua masa kemunduran dan masa Tiga Kerajaan Besar. Turki Utsmani, Dawlah Shafawiyah, dan Dawlah Mongoliyah di India. Fase Tga Kerajaan Besar mengalami kemajuan pada tahun 1500-1700 M. dan mengalami kemunduran kembali pada 1700-1800 M.
Masa kemunduran ini ditandai dengan, yaitu :
1.    Pintu Ijtihad seakan-akan tertutup
Pada masa ini yang menonjol dibandingkan masa sebelumnya ialah berkarnya ruh taqlid dalam jiwa dan hati para ulama sehingga tidak dijumpai dalam kelangan mereka yang jiwanya mencapqai ketingkat ijtihad.
2.    Putusnya hunbungan antar ulama
Pada zaman ini, tidak ada pengembaraan kepada kota-kota lain untuk belajar dan bertukar ilmu pengetahuan atau bersilaturrahim, mereka hanya cukup belajar dikampung-kampung sendiri sehingga menjadikan pemikiran mereka sempit dan tidak adanya pembelajaran terhadap kitab-kitab para imam-imam terdahulu.
3.    Zaman ikhtisar dan syarah
Dengan pemikiran mereka yang sempit mereka mencoba bahkan memaksa untuk mengikhtisarkan kitab-kitab ulama terdahulu, sehingga hasilnya seakan menjadi teka-teki yang sulit dimengerti. Yang terjadi kemudian memaksa murid atau temannya untuk mensyarahkan kitabnya yang masih mengandung teka-teki.
Turki Usmani atau yang juga disebut dengan daulah Smaniyah berasal dari suatu kabilah yang idup di turkistan, dibawah pimpinan Sulaiman Syah. Daulah ini berdiri pada tahun 1300 M di Asia kecil oleh Usman di atas puing-puing kesultanan Saljuk. Daulah ini juga berhasil menjadikan Islam kembali berdiri gagah dan dapat menyambung usaha serta kemegahan yang lama sampai kepermulaan abad XX ini.
Selanjutnya pada tahun 1516 M/923 H daulah Usmaniyah memegang kendali dunia Islam yang berpusat di Istambul dengan terlegih dahulu melebarkan sayap dari semenanjung Balkan ke sebelah Timur sehingga dalam waktu singkat seluruh Persia dan Irak yang sebelumnhya dikuasai daulah Shafawiyah dengan beraliran syi’ah dapat direbut. Pemimpin pada masa ini disebut ‘sultan’ yang kemudian lebih mementingkan hal keduniawian seperti halnya politik, lain halnya dengan masa sebelumnya yang pemimpinnya disebut ‘khalifah’ karena dasarnya ialah prinsip Islam yang meliputi dunia dan akhirat, negara dan agama, serta menonjolkan hukum Islam dalam berbagai persoalan. Perhatian pada masa ini yang lebih kepada hal-hal keduniawian sangat berpengaruh kepada pertumbuhan kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan, hingga pada masa yang suram ini hampir tidak pernah lahir ulama atau ilmuan yang mempunyai pemikiran orisini, hanya terdapat segelintir saja seperti Haji Kholifa (Mustafa ibn Abdullah 1068 H/ 1658 M) seorang yang berpengetahuan luas, prajurit yang berani, dan pengarang yang cakap di antra bukunya adalah Mizan al-Haq Fi Ikhtiyari al-Ahaq yiatu tentang tasawuf. Daud Inthaqy (Daud ibn Umar al-Inthaqy al-Dharif 1008 H/1598 M) seorang dokter yang terkenal pada zamannya dan juga seorang pengarang buku kedokteran, di antaranya buku Tadzkirah Ulil Albab wa  al-Jumu’u lil Ujbi al-Ujab tentang ilmu kedokterna sebanyak tiga jilid.
Sedangkan dalam bidang seni, sya’ir dan arsitektur daulah Usmaniyah mempunyai jasa yang tidak kecil. Bapak penyair muslim Jalaluddin Rumi (Muhammd ibn Husin al-Khotib al-Bakri, dilahirkan di Balch, Persi 604H/1217M-672 H/1273 M), sebab pengaruhnya seni bersyair berkembang di dunia Islam, khususnya di Turki pada masa Usmaniyah. Sedangkan dalam bidang arsitektur, daulah Usmaniyah mempunya madzhab sendiri yang disebtu style Usmaniyah. Yaitu perpaduan antara arsitektur Byzantium dan turki Usmaniyah sehingga menghasilkan perwujudan dalam bentuk qubah setengah lingkaran dengan pilar-pilar yang besar sebagaimana terlihat pada bentuk qubah masjid Istiqlal di Indonesia.
Di tengah kejayaannya separuh dari wilayah daulah Usmaniyah Eropa yang beribu kotakan Konstantinopel, Eropa, yang merupakan salah satu pusat peradaban Barat pada zaman pertengahan. Maka tidak heran lagi kalau daulah Usmaniyah sedikit banyak terpengaruhi oleh kondisi Eropa. Kekuasaan terakhir yang yang pernah dilakukan oleh daulah Usmaniyah adalah mampu menguasai daerah Eropa sampai benteng Wina dengan sultan Sulaiman Agung (1520-1968 M) setelah itu daulah Usmaniyah mengalami kemunduran yang salah satu faktornya adalah ditemukannya jalan ke Timur melalui Tanjung Pengharapan oleh bangsa Portugis sehingga semua hubungan perdagangan antara Timur dan Barat yang semula lewat Jalur Tengah yang dikuasai oleh daulah Usmaniyah sepenuhnya berpindah melalui jalur Tanjung Pengharapan, sehingga yang mulanya keuntungan diambil oleh daulah Usmaniyah yang digunakan sebagai segala pembiayaan kekayaan daulah beralih menjadi milik bangsa Portugis. Ditambah ditemukannya benua Amerika oleh bangsa Spanyol dan adanya semangat baru berasal dari pemikiran dan intelektual yang diwarisi dari kebudayaan Islam telah mengantarkan Eropa kearah kemajuan, sebaliknya mendorong dunia Timur, daulah Usmaniyah khususnya mengalami kemunduran yang mulai tampak setelah tentara Usmaniyah yang berada di benteng Wina mengalami kekalahan pada tahun 1683 M. Kekalahan itu berlanjut sehingga ditandanganinya perjanjian Carlowiz 1699 M, daulah Usmaniyah harus menyerahkan Hongaria kepada Australia, Podolia kepada Polandia dan Arov kepada Rusia. Kemunduran tersebut tidak bisa ditanggulangi karena krisisnya ulama dan ilmuan Islam serta minimnya sumber dana pada waktu itu.
Daulah Syafawiyah berasal dari sebuah gerakan tasawuf yang dipimpin oleh Syekh Shofiudin yang berasal dari tanah Arab sebelah Selatan yang kemudian pindah ke Ardabil di Azerbayen dan beliau maih keturunan imam Syi;ah yang keenam Musa al-Khazim. Ismail bin Haidar lahir tahun 1487 M, seorang yang merubah gerakan tasawuf menjadi kerajaan duniawi. Di uisanya yang beru menginjak 15 tahun, dia telah memproklamirkan dirinya sebagai raja Besar Iran dan pembela madzhab syi’ah  yang kemudian dijadikan mazhab resmi negeri Iran, dengan tentaranya yang teratur, fanatik dan sangat menentang kepada paham selain Syi’ah.
Pada saat daulah Usmaniyah mencapai kebesarannya dengan sultannya Sulaiman Agung, sultan yang terbesar daulah Syafawiyah Abbas yang Agung, naik tahta dalam usia 17 tahun dan memerintah pada tahun 1558-1620 M. Dengan cara bekerja sama melakukan perdamaian dengan sultan Sulaiman Agung, sultan Abbas yang Agung melakukan beberapa perbaikan terhadap daulahnya sehingga mengalami perluasan keberbagai daerah. Selain itu pulau-pulau Hermuz di teluk Persi juga dikuasai dan dijadikan sebagai bandar perniagaan dengan nama bandar Abbas. Juga dijadikannya Isfahan sebagai Ibukota, pada zaman ini kebudayaan dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan. Namun setelah sultan ini wafat, daulah Shafawiyah mengalami kemunduran sampai tahun 1722 M, sultan terakhir Husain Syah harus menyerahkan mahkota kerajaan Iran kepada Mir Muhammad Khan penguasa negeri iranselanjutnya dari Afghanistan.
Daulah Munghal India didirikan ole seorang keturnan Hulago dari bangsa Mongol yang pernah mengahancurkan Baghdad termasuk juga di dalamnya agama Islam dan kebudayaannya. Pendirinya adalah Baber yang berarti singa, nama aslinya yakni Zahir ad-Din, putra Syekh Umar yang menjadi Amir di negeri Farghanah, keturunan langsung dari Miransyah, putra ketiga Timur Lenk, dan ibunya keturunan Jenghis Khan. Kerajaan daulah Munghal India ini berjalan selama 330 tahun (1527-1857 M) dengan 10 orang raja yang berpengaruh besar, di antaranya sultan Akbar membentuk bahasa Urdu untuk menyatukan seluruh bangsa yang berada di bawah kekuasaannya, sampai saat ini bahasa Urdu tetap dipakai di Pakistan. Kemudian setelahnya muncul sultan Johangir dan Syekh Jehan yang membangun Taj Mahal untuk makam permaisurinya yang sangat dia cintai. Setalah itu putranya Aurangzeb yang terkenal kuat keagamaannya, menganut aliran ahli sunnah. Jasanya menjadikan seluruh india kecuali daerah-daerah terpencil berada di bawah kekuasannaya pada tahun 1690 M dengan menghadapi bangsa Hindu, Inggris dan Portugis yang mulai berdatangan. Selain itu hasil karyanya ialah membukukan hukum Islam mengenai soal muamalat. Usaha kondifikasi ini dinamakan “ahkam alam giriyah” menurut gelaran yang dipakainya.
Namun pada permulaan abad XVIII M kerajaan Munghal India mulai memasuki zaman kemunduran yang disebabkan adanya perebutan kekausaan oleh putra-putra raja sehingga daulah ini tidak dapat mempertahankan kejayaannya. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh golongan Hindu yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan daulah Munghal India seperti pemberontakan golongan Sikh disebelah utara Delhi, Golongan Maratha di daerah Gurajat 1732 M, tak ketinggalan juga adanya usaha-usaha bangsa Inggris untuk memperoleh daerah di India terutama di Benggal.
C.    Peridoe Modern (1800- sekarang)
Periode ini merupakan Zaman Kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir yang berakhir di tahun 1801, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan kekuatan Barat. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan balance of power, yang telah pincang dan membahayakan Islam. Kontak Islam dengan Barat sekarang berlainan sekali dengan kontak Islam dengan Barat di periode klasik. Pada waktu itu Islam sedang menaik dan Barat sedang dalam kegelapan. Sekarang, sebaliknya Islam dalam kegelapan dan Barat sedang menaik. Kini Islam yang ingin belajar dari Barat.
Dengan demikian timbullah apa yang disebut pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran-pemikiran bagaimana caranya membuat umat Islam maju kembali sebagai di periode klasik.[2] Usaha-usaha ke arah itupun mulai dijalankan dalam kalangan umat Islam dengan melakukan berbagai pembaharuan.
1.    Kerajaan dan Negara Islam Beserta Era Pembaharuannya
a.    Kerajaan Mughal India
Setalah kerajaan Munghal India mengalami kemunduran, kekuasaan berada sepenuhnya di tangan kolonial Inggris, bahkan biaya hidup raja di Munghal India diberikan oleh kolonial Inggris, sehingga menjadikan kerajaan Munghal pada waktu itu sebagai simbol dan lambang belaka. Hingga akhirnya terjadilah perlawanan terhadap kolonial Inggris yang dilakukan oleh Shah Abdul Azizi dengan para muridnya setelah sebelumnya muncul ide pembaharuan diseluruh India yang dicetuskan oleh guruya sendiri Shah Waliullah Dehalwi pada abad ke-18. Perlawan tersebut dilakukan untuk membersihkan ajaran-ajaran agama yang bukan dari Islam. Ia berprinsip daerah-daerah yang dikuasai selain Islam, harus segera direbut kembali. Namun, akhirnya dia terbunuh dalam sebuah pertempuran di Balakot.
Setelah itu muncullah tokoh baru Islam di India yaitu Sayyid Ahmad Khan. Ia mengajak umat Islam untuk belajar bahasa Inggris, dan melakukan politik kompromi dengan Inggris. Dalam berbagai tulisan, seminar dan pidato, Ahmad Khan menyampaikan misinya yaitu menginginkan agar umat Islam mendirikan Negara sendiri, jangan bercampur dengan umat Hindu. Karena umat Islam akan tersisih menjadi minoritas.
Pada 1885, orang India bergabung dengan partai politk all Indian National Congress, tujuannya adalah untuk mendapatkan kemerdekaan, baik kelompok Islam maupun non muslim dalam satu wadah. Namun, tokoh-tokoh muslim mulai berpikir kembali bahwa umat Islam di India harus memiliki Negara sendiri, maka terbentuklah Partai Liga Muslim pada tahun 1906 di Dhaka atas prakarsa Nawab Vikarul Mulk dan Sir Salimullah.
Usaha tersebut tidak sia-sia. Pada 15 Agustus 1947, mendapatkan tujuan yang dimaksud, yaitu memperoleh kemerdekaan dan mendirikan negara sendiri yang berbasis Islam.  Negara itu dinamai Pakistan, dengan presiden pertamanya Ali Jinnah.
b.    Mesir
Mesir mulai zaman modern ketika terjadi persinggungan antara Barat (perancis) dan Mesir dengan ekspedisi Napoleon  tahun 1798. Ketika Perancis angkat kaki dari Mesir pemerintahan diganti oleh Muhammad Ali Pasya sebagai gubernur Turki Usmani. Ia memulai memodernisir Mesir, terutama di bidang militer dan berkuasa hingga tahun 1848 yang kemudian digantikan oleh anaknya, Ibrahim Pasya.
Tahun 1882 terjadi pemberontakan Urabi Pasya terhadap Inggris yang menguasai Mesir. Negeri lembah Nil itu baru merdeka dari Inggris tahun 1922. keturunan Muhammad Ali Pasya berkuasa di Mesir hingga tahun 1953, ketiak Mesir dipimpin oleh Raja Faruq. Kemudian digantikan oleh Muhammad Naguib dan Mesir berubah menjadi negara Republik. Ia menggalang persatuan dengan Syiria yang diberi nama Republik Persatuan Arab pada tahun 1958. Namun, persatuan itu tidak lama, hanya sampai September 1961.
2.    Pemikiran Islam Modern
Berawal dari kegelisahan umat Islam pada saat itu, yaitu banyaknya muncul penyelewengan-penyelewengan ajaran Islam, baik di kalangan masyarakat biasa, maupun dalam tingkatan politik dan pendidikan. Maka diperlukan adanya proses modernisasi maupun pembaharuan dari bidang akidah, politik dan pendidikan.
Pembaharuan dalam Bidang Akidah
a.    Muhammad ibn Abdul Wahhab
Pemikiran Muhammad ibn Wahhab mempengaruhi dunia Islam di masa modern sejak abad ke-19. Muhammad ibn Abdul Wahab lahir di Uyainah, Nejd Arabia Tengah pada tahun 1115-1703 M. Ayahnya Abdul Wahhab adalah seorang hakim di kota kelahirannya. Di masa pemerintahan Abdullah ibn Muhammad ibn Muammar dan mengajar fiqh dan hadis di masjid kota tersebut. Kakeknya Sulaiman, adalah seorang mufti di Nejd. Ia mulai belajar agama dari Ayahnya sendiri dengan membaca dan menghafal al-Qur’an. Di samping belajar kitab-kitab agama aliran Hanbali, ia berkelana mencari ilmu ke Mekkah, Madinah dan Basra.
Sebutan Wahhabiyah adalah nama yang diberikan kepada kaum muwahhidun (kelompok pemurnian tauhid) oleh lawan-lawannya, karena pemimpinnya bernama Muhammad ibn Abdul Wahab. Pemikiran keagamaan yang dibawakan olehnya dan menonjol difokuskan pada pemurnian tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Namun, dengan berjalannya waktu, gerakan mereka berkembang menjadi gerakan politik. Meski demikian, ia tidak meninggalkan misi asalnya yaitu pemurnian Islam.
Menurutnya, pembagian tauhid dikategorikan menjadi tauhid ilahiyyah, rubbubiyah, asma, sifat dan tauhid af’al yang disebut juga tauhid ilm dan i’tiqad. Baginya, syirik adalah orang yang menyekutukan Allah dan tidak akan diampuni oleh Allah dosa yang disebabkan tersebut. Pembagian syirik menjadi dua, yaitu syirik akbar (syirik yang nyata) dan syirik asghar (syirik yang tidak tampak) seperti berbuat berlebihan terhadap mahluk yang tidak boleh seseorang beribadah kepadanya, bersumpah kepada selain Allah dan riya’.
b.    Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir di Mesir pada tahun 1849 M, ayahnya bernama Abdul Hasan Khoirullah yang berasal dari Turki, dan ibunya seorang Arab yang silsilahnya sampai kepada suku Umar Bin Khatab. Abduh termasuk anak yang cerdas, meskipun ia bersal dari keluarga petani miskin di Mesir. Sejak kecil ia tekun belajar dan melanjutkan studinya di al Azhar.
Sebagai rektor al-Azhar, ia memasukkan kurikulum filsafat dalam pendidikan di al-Azhar, upaya ini dilakukan untuk mengubah cara berpikir orang-orang al-Azhar. Akan tetapi usahanya ini mendapat tantangan keras dari para syekh al-Azhar lainnya yang masih berpikiran kolot. Oleh karena itu, usaha pembaharuan yang dilakukan lewat pendidikan di al-Azhar tidak berhasil.
Meskipun begitu, ide-ide pembaharuan yang dibawa Abduh, memberikan dampak positif bagi perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Selain sektor pendidikan, proyek pembaharuan Abduh menurut professor sejarah Islam di University of Massachuussets adalah politik dan ranah sosial keluarga yaitu peran wanita. Disamping tiu, Murodi dalam tulisannnya menambahkan analisisnya bahwa ide-ide pemikiran Abduh diantaranya adalah; pembukaan pintu ijtihad, penghargaan terhadap 'akal' (Rasionalitas), kekuasaan Negara harus dibatasi oleh konstitusi, memodernisasikan sistem pendidikan Islam di al Azhar.[3]
c.    Muhammad Rasyid Ridho
Rasyid Ridho dilahirkan di al-Qalamun, di pesisir laut Tengah, pada tanggal 23 September 1865 M. Pendidikan bermula di madrasah al-Kitab al-Qalamun, kemudian di madrasah ar-Rasyidiah di Tropoli. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikan tingginya di al-Azhar 1898 M dan berguru pada Muhammad Abduh. Diantara pembaharuannya adalah: pembaharuan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, memberantas khurafat dan bid'ah. Serta paham-paham yang dibawa tarekat.
Adapun ide-ide pembaharuannya adalah; menumbuhkan sikap aktif dan dinamis di kalangan umat, mengajak untuk meninggalkan sikap fatalisme (jabariyah), rasionalitas dalam penafsiran al Qur'an dan Hadis, penguasaan sains dan tekhnologi, pemberantasan khurafat dan bid'ah, serta pemerintahan yang bersistem khalifah.
Pembaharuan dalam Bidang Politik
a.    Jamaluddin al-Afghani
Jamaluddin lahir di Afganisan tahun 1839 dan meninggal di Istanbul tahun 1897. Ia termasuk pembaharu yang berpengaruh di dunia Islam. Saat usia 25 tahun, ia menjadi pembantu Pangeran Dost Muhammad Khan di Afganistan, dan pada tahun 1864 menjadi penasehat Sir Ali Khan. Serta pernah diangkat sebagai Perdana Menteri oleh Muhammad A’zam Khan beberapa tahun kemudian.
Dalam pola pikirnya, ia berpendapat bahwa kemunduran umat Islam, salah satu sebabnya adalah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran qada’ dan qadar telah berubah menjadi ajaran fatalisme yang menyebabkan umat menjadi statis. Sebab-sebab lain adalah perpecahan di kalangan umat Islam sendiri, yaitu lemahnya persaudaraan antar umat Islam dan lain-lain. Untuk mengatasi semua itu, menurutnya umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam yang benar, mensucikan hati, memuliakan ahlak, berkorban untuk kepentingan umat, pemerintahan otokratis harus diubah menjadi demokratis. Dan persatuan umat harus diwujudkan sehingga umat akan maju sesuai tuntutan zaman.
Selain itu, ia menegaskan bahwa solidaritas sesama muslim bukan karena ikatan etnik maupun rasial, tetapi karena ikatan agama. Muslim entah dari bangsa mana datangnya, walau pada mulanya kecil akan berkembang dan diterima oleh suku dan bangsa lain seagama selagi ia masih menegakkan hukum agama. Ide yang terahir inilah merupakan ide orisianal darinya, yang dikenal dengan Pan Islamisme, persaudaraan sesama umat Islam sedunia.
b.    Muhammad Ali Pasya
Muhammad Ali Pasya adalah orang pertama yang membuka jalan pembaharuan di Mesir, kemudian beberapa tahun di akui sebagai  the founder of modern egypte. Berasal dari Turki, kelahiran Yunani pada tahun 1765 dan wafat pada tahun 1849. Sejak kecil beliau telah bekerja keras untuk keperluan hidupnya, sehingga tidak mempunyai waktu untuk sekolah dengan demikian beliau tidak pandai baca tulis. Setelah dewasa Ali Pasya bekerja sebagai pemungut pajak dan karena rajin bekerja beliau disukai oleh gubernur yang akhirnya diangkat menjadi menantu.
Pada waktu penyerangan Napoleon ke Mesir, Sultan Turki mengirim bantuan tentara ke Mesir, di antara perwiranya adalah Muhammad Ali Pasya yang ikut melawan Napoleon pada tahun 1801, setelah itu diangkat menjadi kolonel dan mulai saat itu Ali Pasya menjadi penguasa tunggal di Mesir. Akan tetapi ia keasikan dengan kekuasaannya dan bertindak diktator. Akhirnya Muhammad Ali dan keturunannya menjadi raja di Mesir kurang lebih 1,5 abad lamanya. Akhir kekuasaanya pada tahun 1953. Jika diteliti Muhammad Ali Pasya tidak pandai baca tulis, tetapi beliau seorang yang cerdas dan merupakan sosok ambisius menjadi penguasa umat Islam. Keambisiusannya itu tampak dalam pembaharuan yang dilakukan terhadap kemajuan umat Islam, diantaranya perkembangan politik dalam negeri maupun luar negeri, seperti membangun kekuatan militer, meningkatkan bidang pemerintahan, ekonomi dan pendidikan.
Pembaharuan dalam Bidang Pendidikan
Pembaharuan dalam bidang pendidikan ini dilakukan oleh at-Tahtawi (Rifa'ah Badhawi Rafi' al Tahtawi, lahir pada tahun 1801 di Mesir Selatan, wafat tahun 1873 di Kairo). Seorang pembaharu yang mempunyai pengaruh besar pada abad ke-19 dan seorang yang sangat berpengaruh dalam usaha-uasaha gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad Ali Pasya. Al Tahtawi belajar di al Azhar Mesir, dan setelah kembali diangkat menjadi sebagai guru bahasa Perancis dan penerjemahan di sekolah kedokteran.[4]
Pada tahun 1836 didirikan sekolah penerjemah yang kemudian dikepalai oleh al Tahtawi. Beliau bukan seorang penganut sekuler, usahanya adalah memperbaiki tradisi, khususnya dalam bidang pendidikan, kewanitaan dan memperbaiki literature. Beliau menginginkan Mesir maju seperti dunia Barat, namun tetap dijiwai oleh agama dalam segala aspek.
Salah satu jalan untuk kesejahteraan menurutnya adalah, berpegang pada agama dan akhlak budi pekerti, untuk itu pendidikan merupakan sarana penting. Tujuan dari pendidikan menurutnya adalah membentuk manusia berkepribadian patriotik dengan istilah hubbul wathon yaitu mencintai tanah air. Perasaan patriotik itu akan menimbulkan rasa kebangsaan, persatuan, tunduk dan mematuhi undang-undang, serta bersedia mengorbankan jiwa dan harta untuk mempertahankan kemerdekaan.
Dalam hal agama dan peranan ulama, al-Tahtawi menghendaki agar para ulama selalu mengikuti perkembangan dunia modern dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan modern. Ini mengandung arti bahwa pintu ijtihad tetap dibiarkan terbuka lebar. Ide-ide pembaharuan yang dilontarkan al-Tahtawi bahwa ajaran Islam tidak hanya monoton mengurusi Tuhan akan tetapi kehidupan social juga harus seimbang, kebiasaan diktator raja seharusnya diganti dengan musyawarah, syari'at harus sesuai dengan perkembangan modern, para ulama harus belajar filsafat dan ilmu pengetahuan agar syari'at sesuai dengan kehidupan modern, pendidikan harus bersifat sosial (termasuk tidak ada pembedaan bagi perempuan).


BAB III
ISLAM INDONESIA PADA PERIODE MITOS, IDEOLOGI DAN ILMU
A.    Periode Mitos
Periode ini berlangsung sebelum dan pada abad ke-19 serta awal abad ke-20. Bahkan, tanda-tanda periode ini masih akan ditemukan sisa-sisanya selama masih ada petani. Mitos adalah suatu konsep tentang kenyataan yang mengandaikan bahwa dunia pengalaman kita sehari-hari ini terus-menerus disusupi oleh kekuatan-kekuatan yang keramat, demikian kata Berger dan Luck mann. Mitos adalah juga salah satu bentuk kebudayaan, yang menurut Ernst Cassirer adalah agama, filsafat, seni, ilmu, mitos, sejarah, dan bahasa. Dalam sejarah Indonesia mitos jauh lebih tua umurnya daripada sejarah. Cerita dan tokoh wayang adalah mitos murni, sedangkan kisah dan tokoh para wali adalah mitos bercampur sejarah. Hikayat, tambo, dan babad berisi mitos. Bahkan, buku Sejarah Melayu juga berisi mitos itu, sekalipun memakai nama sejarah. Tidak seperti sejarah yang berdasar kebenaran fakta, kisah dalam mitos juga berdasar fakta tetapi selalu disamarkan.
Di Indonesia terdapat tiga mitos, yaitu mitos lama, mitos baru dan mitos kontemporer. Mitos lama itu yang kebanyakan berupa legitimasi, seperti misalnya raja-raja adalah turunan para nabi dan dewa, raja adalah titisan dewa, raja mendapat pulung kerajaan, dan raja mempunyai wahyu nurbuwat yang memberi hak memerintah. Ada lagi mitos yang mengungkapkan pandangan hidup, seperti misalnya ruwatan untuk wong sukerta (orang kotor), raksasa makan bulan waktu gerhana, larangan dan sanksi, dan bermacam keharusan. Penjajah menambah mitos tentang pribumi yang malas, pribumi dapat hidup dengan sebenggol (dua setengah sen), dan pribumi yang suka memberontak.
Mitos baru yang biasanya berupa mitos politik, seperti misalnya Belanda dikalahkan jago karate bersenjata tebu wulung, Jepang memerintah seumur jagung, Noyogenggong dan Sabdopalon akan kembali setelah 500 tahun menghilang, gemah ripah loh jinawi karto raharjo, Indonesia dijajah 350 tahun, Indonesia Raya, 6000 tahun Sang Merah Putih, Pancasila Sakti, Sang Saka yang keramat, dan pemimpin itu selalu benar.
Sedangkan mitos kontemporer kebanyakan bersifat komersial, seperti keperkasaan pria, ramuan Madura, kelangsingan tubuh, hotel berbintang, kebugaran tubuh, kualitas ekspor, sepak bola, dan tinju dunia. Kita lihat bahwa komersialisasi mitos kontemporer itu kebanyakan terjadi setelah ada budaya massa. Mitos-mitos itu menurut George Sorel sebagaimana dituturkan kembali oleh Ben Halpern adalah di antar anya bersifat irasional.
Selain itu, di masa lalu petani selalu tertekan, selalu ada di lapis terbawah dalam hirarki kekuasaan, baik kekuasaan pribumi maupun Belanda, sehingga petani secara irasional mengharapkan datangnya Ratu Adil alias Imam Mahdi alias Herucakra yang akan membebaskan mereka dan menjadikan mereka hidup dalam tatanan dunia yang lebih baik. Maka, di bawah ini akan diberikan tiga contoh gerakan sosial berdasar mitos. Satu tentang Ratu Adil abad ke-19, satu dari pergantian abad ke-20, satu lagi dari awal abad ke-20.
Pada 1871 ada gerakan Ratu Adil dipimpin oleh Achmad Ngisa di Banyumas. Ia meramalkan bahwa Pangeran Erucakra akan datang, lengkap dengan tentaranya berupa hantu, lelembut, dan binatang beracun. Erucakara akan memimpin perlawanan terhadap pemerintahan asing, mengusir orang-orang asing dari negeri ini, dan memperbolehkan mereka kembali dengan syarat masuk Islam dan membatasi diri dalam perdagangan. Setelah orang asing terusir, akan muncul tiga orang raja; satu dari Majapahit, satu dari Pejajaran, dan satu lagi dari Kalisalak (Pekalongan). Pada 1904 ada Peristiwa Kasan Mukmin di Sidoharjo. Ia mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Dia seorang pengikut tarekat Naqsyabandiyah, tidak mempunyai langgar sendiri, tetapi mengajarkan ngelmu-nya secara rahasia. Murid-muridnya percaya bahwa ia sanggup menghadapi musuhnya sendirian, sebab mempunyai keris yang dapat berputar-putar di udara. Pengikut-pengikutnya dengan senang ikut pemberontakan karena dijanjikan surga. Ia memimpin dzikir dan membagikan air zamzam sebelum berperang pada 27 Mei 1904, bertepatan dengan hari Garebeg Mulud. Akibat dari perang itu 40 orang meninggal, 20 luka-luka, dan 83 ditawan. Pada 1920 terdapat gerakan Imam Mahdi di Gombong yang dipimpin oleh Raden Mashadi alias Gusti Ahmad. Tetapi, ia dipenjarakan sebelum sempat melakukan perlawanan.
Periode mitos dapat dikatakan sudah berakhir menjelang abad ke-20. Namun, mitos-mitos masih ada sepanjang abad ke-20, bahkan pada awal abad ke-21 ini sebagai kebudayaan yang ketinggalan zaman (cultural lag).[5]
B.    Periode Ideologi
Baru saja dikemukakan bahwa tidak ada yang tidak berubah dalam sejarah, kecuali perubahan itu sendiri. Tetapi supaya ada perubahan, sejarah perlu punya kekuatan sejarah. Kekuatan sejarah itu dalam periode ideologi dan dalam periode ilmu yang terpenting ialah adanya mobilitas sosial atau tepatnya mobilitas sosial ke atas (vertical social mobility), menyusul itu ialah adanya pribadi kreatif (creative personality) dan minoritas kreatif (creative minority) sebagai inisiatornya.
Dalam periode ideologi ini terdapat perpindahan lokasi gerakan Islam, yaitu dari desa ke kota. Demikian pula kepemimpinan sosialnya, dari seorang ulama ke orang biasa. Pada 1911 berdirilah di Laweyan, sebuah kecamatan di kota Solo yang menjadi pusat perdagangan batik sehingga mengalami mobilitas social ke atas, yaitu Sarekat Islam (SI). Gerakan itu tidak lagi dipimpin oleh elite desa (ulama, tokoh kharismatis, kiai) tetapi oleh elite kota (orang biasa, pedagang). Haji Samanhudi, seorang pribadi kreatif awam.
Adapun minoritas kreatifnya ialah Mas Marco, HM Bakrie, H Hizyam Zainie, dan sebagainya. Tetapi, perpindahan lokasi dan kepemimpinan sosial itu tidak serta-merta menjadi perubahan dalam alam pikiran umat. Masih ada sumpah, tetapi kalau dulu orang bersumpah setia hanya pada pemimpin, sekarang orang bersumpah setia pada organisasi dan pimpinan. Sumpah masih diperlukan, sebab pengikut SI adalah priyayi rendah, pedagang, dan petani yang bodoh. Perkembangan SI mengagumkan. Hanya dalam waktu setengah tahun telah terdaftar 20 ribu orang. Cepatnya perkembangan SI ini disebabkan oleh empat hal, yaitu SI mewakili wong cilik, SI adalah gerakan Ratu Adil, SI mendapat restu dari Sunan, dan SI adalah organisasi Islam.
SI sungguh mewakili wong cilik, karena sudah ada organisasi priyayi, yaitu Budi Utomo. SI dipersangkakan sebagai gerakan Ratu Adil, karena pengikutnya mempunyai harapan mileranistis. SI mendapat restu dari Sunan, karena puteranya, Pangeran Hangabehi, di kemudian hari diangkat jadi Penasihat SI. Sebagai organisasi Islam, karena SI-lah organisasi pertama yang memakai nama Islam. Volun Tary Association Islam itu merupakan loncatan sejarah, karena sebelumnya semua gerakan Islam selalu bertumpu pada orang.
Rupanya kenyataan bahwa SI cepat berkembang membuat berang pejabat kolonial. Pantas kalau pendirinya, Haji Samanhudi, mendapat cemooh dari pejabat Belanda. Dr Rinkes dari Kantoor voor Inlandsche Zaken menggambarkannya sebagai penjudi, suka bergaul dengan para wanita buruk, gonta-ganti isteri, dan seorang pedagang merangkap sebagai rentenir yang 'awoke one morning and found himself famous' ('bangun suatu pagi, dan tiba-tiba sudah menjadi terkenal). Tidak hanya dari pejabat Belanda, tetapi juga dari priyayi pribumi SI mendapat kecaman, kali ini mengenai penggunaan agama. Dr Radjiman, seorang tokoh Budi Utomo, menyangsikan bahwa agama dapat jadi perekat sebuah gerakan massa. Ia meramalkan bahwa SI hanya gerakan sementara dari haji, santri, dan orang-orang bodoh. Tentu, para pejabat Belanda dan para priyayi pribumi tidak tahu bahwa SI kemudian mengalami metamorfose.
Perubahan yang signifikan terjadi pada tahun 1914, ketika
kepemimpinan dipegang oleh Tjokroaminoto, pribadi kreatif yang lainnya, seorang elite terpelajar lulusan Osvia (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren, Sekolah Pendidikan Pegawai Bumiputera), sekolah yang sangat terhormat waktu itu. Pada tahun 1915
-tepatnya 26 Juli 1915, di Jagalan, Surakarta- dia memberi bobot ideologis (kata ideologi tidak pernah tercantum dalam organisasi Islam mana pun) pada gerakan SI. Katanya, ''de Islam is de godsdienst van de armen en de verdrukten,'' (Islam adalah agama bagi orang miskin dan orang tertindas). Sejak itu -kalau kita diminta menunjuk sebuah tanggal- mulailah sungguh-sungguh kesadaran keagamaan umat berubah dari periode mitos ke periode ideologi.[6]
Sebelum kemerdekaan, adanya ideologi dalam kesadaran keagamaan umat Islam diwakili dengan baik oleh SI seperti di atas. Ideologi mereka yang tentu saja tidak tercantum dalam anggaran dasar adalah anti-kolonialisme dan anti-feodalisme, sebab kolonialisma dan feodalisme-lah yang dianggap bertanggung jawab atas kemiskinan dan ketertindasan umat.
Ideologi anti-kolonialisme SI tampak setidaknya dua kali -sekalipun kedua-duanya secara tidak terus terang. Pertama, meskipun SI-SI lokal dan pada mulanya para pemimpin, termasuk Tjokroaminoto, tidak setuju, tetapi CSI dengan segan menerima militie plicht (wajib militer) pada 1915. Kedua, SI Solo mencoba mempermalukan otoritas Belanda dengan mendukung nasionalisme Jawa; pada tahun 1915 SI Solo ikut merayakan secara besar-besaran perkawinan ke-2 Pakubuwono X. Adapun sikap anti-feodalisme itu tampak di antaranya dalam upacara, bahasa, dan agama.
Wakil dari periode ideologi setelah Kemerdekaan Yang paling vokal ialah Masjumi. Sebagai pewaris dari SI, Masjumi selalu mencetak kembali buku Tjokroaminoto, Socialisme Islam (1924) berkali-kali.
Ideologi Masjumi ialah, pertama anti-komunis, kedua negara demokrasi (yang sering dipersangkakan sebagai negara Islam), dan ketiga anti-diktatorisme. Sebagai kekuatan anti-komunis lewat Hisbullah-Sabilillah Masjumi aktif dalam penumpasan pemberontakan komunis pada 1948. Sejak itu sampai membubarkan diri pada 1960 Masjumi jadi musuh PKI dengan isu 'Negara Islam' yang dibeli oleh orang luar dan umat Islam sendiri. Sebagai demokrat ia ikut dalam demokrasi parlementer, kabinet, pemilu, dan Konstituante. Sebagai anti-diktatorisme Masjumi yang melihat tanda-tanda itu dalam Demokrasi Terpimpin dan pada 1957 mencoba menolaknya, tetapi justru peran politiknya yang berakhir. Pada 1960 Masjumi menyatakan diri bubar.
Praktis tidak ada partai politik Islam di masa Orde Baru, bahkan sebelum deideologisasi partai dan ormas secara resmi berlaku pada 1985. Sesudah Reformasi pada 1998 memang ada partai-partai lama dan baru dengan ideologi Islam, seperti PPP (Partai Persatuan Pembangunan), PBB (Partai Bulan Bintang), dan PK (Partai Keadilan). Tetapi, belum jelas benar apa arti ideologi itu bagi mereka, masih bersifat formal.
C.     Periode Ilmu
Mobilitas sosial vertikal yang mendatangkan kekayaan berkat
perdagangan, bagi umat Islam selain melahirkan ideologi, juga mempersiapkan Islam memasuki periode ilmu. Keduanya mempunyai perbedaan dan persamaan. Perbedaannya ialah lahirnya ideologi pada awal abad ke-20 sangat cepat evolusinya, periode ilmu evolusinya memerlukan waktu yang jauh lebih lama, yaitu sekitar 75 tahunan. Persamaannya ialah periode ideologi didahului dengan mitos, periode ilmu juga ada pendahulunya. Periode ilmu yang merupakan proses ambil-alih ilmu-ilmu modern, didahului dengan proses ambil-alih substansi dan metodenya, sebelum pada akhirnya ia diberi substansi keislaman. Apakah beda antara ideologi dan ilmu? Keterangan di bawah ini akan membuat keduanya jelas. Mengenai fakta ideologi meli
hatnya secara subjektif, sedangkan ilmu melihatnya secara objektif.
Barangkali sebuah contoh konkret akan memperjelas perbedaan ini. Pada tahun-tahun 1960-an PKI melihat fakta secara subjektif dengan tidak memasukkan Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi Cina perantauan) sebagai borjuasi, hanya karena PKI berkepentingan dengan dana mereka.
Padahal, jelas-jelas Baperki adalah borjuasi tulen. Mengenai analisis, ideologi akan melihatnya berdasar norma organisasi, sedangkan ilmu melihatnya sesuai dengan fakta di lapangan. Lagi-lagi kita contohkan bagaimana PKI melihat situasi. Di desa-desa di mana tuan tanah tidak ada, PKI terpaksa mengangkat lurah desa yang mempunyai tanah dan bengkok lebih lima hektar sebagai tuan tanah, karena demikianlah norma partainya.
Mengenai metode, struktural artinya ideologi menggunakan perangkat politik, sedangkan kultural artinya ilmu menggunakan kekuatan kebudayaan. Rekonstruksi total, artinya ideologi menghendaki supaya masyarakat berubah secara keseluruhan dan serempak. Rekonstruksi parsial, artinya ilmu hanya menghendaki perubahan yang terperinci dan satu per satu.
Sejarah munculnya periode ilmu itu demikian. KH Ahmad Dahlan adalah pribadi kreatif yang memulai gerakan Islam, Muhammadiyah, pada 1912 di kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah mengadopsi ilmu-ilmu modern sepenuhnya dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, kepanduan, dan perkumpulan sepak bola.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah menyebabkan dan mendorong adanya mobilitas sosial. Mula-mula mobilitas itu hanya melahirkan elite terpelajar yang terdiri dari guru, pegawai negeri, dan pegawai perusahaan, seperti pada umumnya sekolah-sekolah Belanda.
Namun, pada sekitar 1980-an mobilitas itu --sekalipun tidak selalu terkait dengan Muhammadiyah-- telah melahirkan elite baru, yaitu kaum profesional yang terdiri dari eksekutif, akademisi, pegawai tinggi, intelektual, dan sebagainya. Peristiwa yang merupakan hasil evolusi sosial yang panjang itu secara resmi ditandai dengan munculnya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) pada 1990, organisasi Islam non-politik dan ormas non-sektarian.
Para ahli mengenai Indonesia, yang berpendidikan Barat maupun berpendidikan Indonesia sendiri, gagal memahami perbedaan yang fundamental tentang kaum terpelajar dan kaum profesional dan menyebut kedua-duanya dengan nama yang sama, kelas menengah. SI, Muhammadiyah, Masyumi, dan ICMI dipersangkakan lahir dari kelas yang sama. Kegagalan ini jelas sumbernya, yaitu literatur sosiologi yang berasal dari pengalaman masyarakat Barat.[7]
Dalam masyarakat Barat tidak ada gelombang mobilitas sosial. Amerika, misalnya, memang sejak mula adalah negeri kelas menengah. Orang-orang yang bersemboyan ''free labor, free soil'' menjelang Civil War adalah kelas menengah yang terdiri dari kaum industrialis. Mereka akan diuntungkan jika ada tenaga kerja bebas, bukan perbudakan seperti terjadi di Selatan. Di Perancis sudah tersedia kaum bourgeoisie sejak Zaman Pertengahan. Mereka yang menjadi pendukung Absolutisme dan Revolusi 1789 adalah kelas menengah. Dalam masyarakat Indonesia ceritanya lain. Pemer intah kolonial membatasi mobilitas sosial dengan memberi kualifi kasi tertentu pada orangtua calon siswa untuk memperoleh pendidi kan. Akibatnya, Gelombang Pertama mobilitas sosial hanya menghasilkan kaum terpelajar. Gelombang Kedua dari mobilitas sosiallah yang melahirkan kaum profesional, dan itu terjadi setelah kemer dekaan.
Lahirnya periode ilmu itu sudah menjadi wacana pada 1960-an, namun baru pada 1990-an hal itu menjadi kenyataan. Selain ICMI, kaum profesional itu juga menghasilkan Periode Ilmu. Dalam periode ini apa yang oleh Muhammadiyah dulu substansi dan metodenya diambil dari khazanah dunia modern, sekarang substansi itu sepenuhnya diganti dengan Islam. Ada gejala yang sama dari periode ini, yaitu perlunya Islam menjadi agama yang objektif (untuk siapa saja, tanpa memandang predikatnya; memandang sesuatu sebagai sebenarnya, tanpa dipengaruhi keyakinan pribadi). Adapun hasil periode ini dapat dilihat setidaknya dalam tiga bidang, yaitu ilmu ekonomi Islam dan aplikasinya, politik praktis, dan pemikiran agama. Dan, yang sudah di ambang pintu ialah lahirnya psikologi Islam.
Sebagai teori, Ilmu Ekonomi Islam sudah lahir duluan, tetapi penerapannya mulai dengan adanya periode ilmu. Pada saat inilah umat menerapkan ekonomi Islam (ekonomi syariah) sebagai sebuah sistem yang netral dan objektif. Ada perbankan, ada sekolah, ada kursus, dan ada agribisnis. Dalam politik praktis juga demikian.
Objektivitas itu berupa adanya pengakuan akan pluralisme dalam agama, kebudayaan, bahasa, dan warna kulit. Politik dalam Periode Ilmu mempertemukan agama-agama dengan menunjukkan moralitasnya yang objektif. Dalam pemikiran agama, periode ini menghendaki supaya Islam juga semakin objektif ke luar dan ke dalam.
Penerapan ekonomi syariah dimulai dengan menggarap institusinya yang paling modern, yaitu perbankan. Perbankan Islam (bank syariah) dimulai pada 1992 oleh sejumlah minoritas kreatif di sekitar MUI (Majelis Ulama Indonesia) dengan berdirinya BMI (Bank Muamalat Indonesia). Sudah itu ada 18 bank Islam berdiri, dan yang terakhir ialah Bank BNI Syariah pada 2001. BMI-lah yang paling banyak mempunyai cabang dan produk. BMI juga mendirikan BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah) dan BMT (Baitul Mal wa-Tamwil). Sekalipun Indonesia mengalami krisis ekonomi berkepanjangan dan banyak bank-bank umum gulung tikar, sebab mengalami negative spread, kredit macet, dan tidak dapat memenuhi rasio kecukupan modal CAR (Capital Adequacy Ratio), namun bank-bank syariah tetap hidup. Pada bank-bank syariah tidak ada negative spread (selisih negatif antara pengeluaran untuk bunga deposito dan penerimaan dari bunga kredit dan lain-lain), karena sistemnya adalah bagi hasil.
Adapun bagi hasil yang kebanyakan berlaku pada perbankan adalah al-musyarakah dan al-mudharabah. Al-musyarakah adalah perjanjian antara dua pihak untuk usaha tertentu. Masing-masing pihak dalam al-musyarakah memberi kontribusi dana atau amal dengan kesepakatan bahwa risiko ditanggung bersama. Al-mudharabah adalah akad kerja sama, dengan pihak pertama menyediakan dana seratus persen, sedangkan pihak kedua -dalam hal ini ialah bank- menjadi pengelola.
Selebihnya, sekolah-sekolah tinggi ekonomi syariah juga bermunculan, baik yang berdiri sendiri maupun yang diikutkan program lain. Di Yogyakarta ada SEM (Syari'ah Economic and Management) Institute yang menawarkan Keuangan dan Perbankan Syariah, Akuntansi Syariah, dan Manajemen Syariah. Belum ada riset mengenai hal ini, sehingga keberadaan sekolah-sekolah lain belum diketahui, termasuk kursus-kursus.
Selain itu, ada eksperimen perusahaan agribisnis di Sukabumi, Jawa Barat, yang menjalankan usaha berdasar syariah Islam (al-mudharabah). Sedemikian jauh usaha itu sangat menguntungkan, baik bagi investor, manajemen, petani, maupun buruh. Manajemen berha sil menanggulangi masuknya pemodal besar dengan cara bermacam-macam.
Dalam politik praktis Periode Ilmu menghasilkan PAN (Partai
Amanat Nasional) yang berdiri pada 1998. Pribadi kreatif dan ketua pertamanya adalah M Amien Rais, mantan ketua PP Muhammadiyah. Minoritas kreatifnya banyak, sehingga tak adil menyebutnya satu per satu. Ada dua hal yang patut dicatat bagi perkembangan kesadaran keagamaan umat Islam, yaitu moralitas agama dan kemajemukan (Anggaran Dasar, Pasal 6, ''Identitas'', [''moralitas agama, kemanusiaan, kemajemukan'']). Keduanya adalah ajaran agama yang dibuat sebagai gejala objektif. Moralitas agama berasal dari akhlqul karimah (moral yang baik) dan kemajemukan berasal dari ajaran tentang ta'aruf (saling memahami) serta rahmatan lil alamin (rahmat untuk dunia [semua orang]). Moralitas agama berarti bahwa agama Islam akan menyimpan wataknya yang subjektif untuk diri-sendiri dan kelompoknya, dan hanya memperlihatkan wataknya yang objektif itu kepada umum, sedangkan kemajemukan berarti bahwa Islam mengakui adanya pluralisme, dan yang sekaligus juga menjadi praktik politik.
Tetapi, PAN menghadapi kendala. Seorang saksi mata mengatakan bahwa Kongres I PAN, 10-13 Februari 2000 di Yogyakarta sangat mengejutkan banyak orang Islam. Pluralisme adalah gejala baru bagi mereka. Biasanya orang Islam hanya berkumpul bersama orang Islam, sekarang mereka harus berkumpul dengan orang Tionghoa, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Kongres itu dibuka tanpa Gema Wahyu Ilahi. Kemudian langsung Lagu Kebangsaan dan Hymne PAN. Lalu lagu-lagu mars, dinyanyikan oleh 'gadis-gadis SunSilk' tanpa kerudung. Ibu-ibu berkerudung rerasan, tampak terheran-heran, ''Lho, ini katanya partai Islam, lha kok begini!'' Mohon diketahui, itu juga partai Islam, partai Islam yang objektif, partai Islam yang dewasa.
Dalam pemikiran agama untuk pribadi yang sesuai sebagai pemikir dan yang paling terprogram --tidak ad hoc-- dalam Periode Ilmu saya mencalonkan M Amin Abdullah dari IAIN Sunan Kalijaga.
Kata orang dia mampu menyihir pendengar-pendengarnya dan memberi inspirasi intelektual. Pada hemat saya programnya ada tiga, yaitu menjadikan agama sebagai gejala objektif, budaya agama yang mengikuti zaman, dan ilmu agama yang objektif dan kritis.
Pertama, ia ingin supaya Islam yang hanya subjektif, Islam yang spiritual, menjadi Islam yang objektif dengan menunjukkan moralitas keislaman ke luar. Hal itu seharusnya tidak mengherankan bagi pengikut Muhammadiyah, sebab sudah dikemukakan sejak lama, yaitu dalam Suwara Muhammadiyah (No 2, Th 1915), bahwa akhlaq mahmudah (akhlak terpuji) harus menggantikan mistisisme, yang biasa menjadi praktik waktu itu. Kedua, ia ingin mereformulasi gerakan tajdid (pembaharuan Islam). Seperti diketahui gerakan pembaharuan dalam Muhammadiyah sudah berumur 90 tahun, sehingga perlu terus-menerus direformulasikan, supaya ketertinggalan dalam interpretasi agama dan sosial-budaya tidak terjadi.
Ketiga, ia ingin supaya ilmu-ilmu Islam semakin objektif dan kritis. Hal itu dia kerjakan dengan memperkenalkan hermeneutika (ilmu penafsiran, penafsir terlibat dalam tafsirannya, penulis tecermin dalam tulisannya) untuk menggantikan semiotika (ilmu tentang tanda, analisis menggunakan bahasa). Hasilnya mengagumkan: kritik atas tafsir, kritik atas kumpulan Hadits, dan kritik atas kitab kuning. Kebetulan selain ada pribadi yang sesuai, ada sejumlah orang yang mendirikan PSW (Pusat Studi Wanita) pada 1995 di IAIN Sunan Kalijaga yang mengurusi soal-soal jender dalam Islam. Lembaga itulah yang dapat menjadi tempat persemaian bagi program M Amin Abdullah yang ketiga.
Ada pertanyaan, setelah Periode Ilmu lalu periode apa? Jawabannya begini. Pertama, ilmu itu ada spesialisasinya. Karena itu nanti yang ada ialah perluasan bidang. Dalam hal Islam, sudah barang tentu hanya ilmu yang memungkinkan diberi substansi Islam.
Kedua, ilmu itu tidak pernah berhenti. Dalam buku The Structure of Scientific Revolution Thomas S Kuhn mengatakan bahwa setelah sebuah ilmu itu mapan ia menjadi normal science dan setelah beberapa lama, lalu ada scientific revolution lalu timbullah paradigma baru. Paradigma baru suatu waktu jadi normal science, dan seterusnya tanpa henti.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa umat Islam terus berkembang baik dalam bidang peradaban, keilmuan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi perkembangan tersebut juga diwarnai dengan beberapa masalah seperti halnya perbedaan dan perdebatan yang tak jarang menimbulkan perpecahan pada tubuh Islam yang didasarkn pada kekuasaan pada akhir tujuannya, hingga kemudian hal-hal itu menyebabkan kemunduran Islam.
Selain itu, modernisasi Islam dimulai dari zaman klasik meliputi zaman Rasulullah, Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyyah, zaman pertengahan yang meliputi tiga kerajaan besar, dan zaman modern dari 1800 sampai dengan sekarang ini. Tidak luput juga Indonesia yang mengalami modernisasi yaitu periode mitos (zaman Ratu Andil), periode politik (negara), dan periode ilmu (sistem), dari sinilah kemudian dapat kita lihat bahwa umat Islam mengalami proses modern yang masih berlangsung sampai dewasa ini.


DAFTAR PUSTAKA

Sunanto. Musyrifah, 2004, Sejarah Islam Klasik, Jakarta Timur: Prenada Media
Nasution. Harun, 1979, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press
Murodi, 1997, Sejarah Kebudayaan Islam Semarang: Toha Putra
Admin, Peradaban Islam Pada Periode Modern (1800-1984), dalam internet, website:  http://pasaronlineforall.blogspot.com, diakses pada tanggal o9 Maret 2011
Kuntowijoyo, Mitos, Ideologi, dan Ilmu, dalam internet, website: http://spaces.live.com/BlogIt.aspx?description=Ilmu+Ideolodi+mitos, diakses tanggal 09 Maret 2011
Musrin Salila, Mitos, Ideologi dan Ilmu, dalam internet, website: http://tinangkung.blogspot.com, diakses tanggal 10 Maret 2011





[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Prenada Media, Jakarta Timur,2004), hal: 21-20

[2] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1979), hal. 88-89
[3] Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam (Semarang: Toha Putra, 1997) hlm. 177-178
[4] Admin, Peradaban Islam Pada Periode Modern (1800-1984), dalam internet, website:  http://pasaronlineforall.blogspot.com, diakses pada tanggal o9 Maret 2011
[5] Kuntowijoyo, Mitos, Ideologi, dan Ilmu, dalam internet, website: http://spaces.live.com/BlogIt.aspx?description=Ilmu+Ideolodi+mitos, diakses tanggal 09 Maret 2011
[6] Perbedaan antara mitos dan ideologi sebagai gerakan sosial ialah: dalam mitos orang tidak peduli dengan ada atau tidaknya fakta tetapi hanya mengikuti pendapat pemimpin, sedangkan dalam ideologi orang melihat fakta-fakta sosial dengan subjektivitas tanpa mempedulikan apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam mitos orang hanya menyesuaikan diri dengan kelompok, sedangkan dalam ideologi orang mempunyai kepentingan dan menyalurkannya secara kolektif. Dalam mitos orang mendasarkan diri tidak pada pertimbangan yang masuk akal tetapi pada emosi, sedangkan dalam ideologi orang sudah berpikir berdasar perhitungan-perhitungan. Mitos hanya meliputi wilayah yang kecil, sedangkan ideologi mencakup wilayah kerja yang luas, wilayah nasional. Dalam mitos orang bergerak tanpa tahu tujuannya dan hanya asal mencari tatanan yang lebih baik, sedangkan dalam ideologi tujuannya ialah membangun kembali masyarakat seperti yang diidamkan.
[7] Musrin Salila, Mitos, Ideologi dan Ilmu, dalam internet, website: http://tinangkung.blogspot.com, diakses tanggal 10 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar