Selasa, 24 Mei 2011

BENTUK BANGUNAN DAN RELIEF CANDI PRAMBANAN


Candi Prambanan merupakan bangunan luar biasa cantik yang dibangun mulai sekitar akhir abad ke-9 dan awal abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Pakai Pikatan dan Rakai Balitung dari dinasti Sanjaya. Menjulang setinggi 47 meter (lima meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.
Sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini akan kami sajikan secara singkat sebagai pengantar hasil observasi ini. Dikisahkan, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.
Candi Prambanan berbentuk bangunan yang menjulang khas arsitektur Hindu, dan tata letak bangunan candi  berupa Mandala, seperti Borobudur. Sebagai simbol dunia/kosmos dalam ajaran  Hindu, candi dibagi dalam tiga bagian baik ke atas maupun ke samping. Bhurloka, yaitu bagian dasar candi, juga bujursangkar luar menggambarkan dunia bawah. Tempat untuk orang biasa, tempat yang kotor di mana angkara banyak terjadi. Daerah ini bukan daerah suci. Bhuvarloka, yaitu bagian tengah candi dan bujursangkar tengah pada komplek candi, melambangkan 'dunia tengah' sebuah tempat bagi mereka yang telah meninggalkan nafsu duniawi yang kemudian dalam Hindu di kenal dengan nama San Yasin. Tempat di mana orang mulai mendapat pencerahan. Svarloka, yaitu puncak candi, dan bujursanngkar paling dalam melukiskan dunia para dewa, tempat paling suci, dan bermahkota.
Candi Prambanan memiliki tiga candi utama di halaman utama yang sama-sama menghadap ke timur, yaitu Candi Wisnu (di sebelah utara), Brahma (di sebelah selatan), dan Siwa (di tengah). Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu, tiga candi itu disebut dengan candi Wahana, yaitu kendaraan dari masing-masing dewa tersebut. Selain itu, masih terdapat dua candi apit, empat candi kelir, dan empat candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Candi Prambanan merupakan Candi Siwa karena selain bilik utama dari candi induk ditempati Dewa Siwa sebagai Maha Dewa[1]. Ukuran candinyapun lebih besar dari pada candi yang lainnya. Candinya sendiri berukuran dasar 17x17 m dan ini berdiri di atas suatu soubasement yang berukuran 34x34 m, tinggi candi keseluruhannya adalah 47 m yang berdiri di atas suatu pondasi. Percandian Prambanan merupakan replica gunung itu terbukti dengan adanya arca-arca dewa Lokapala yang terpahat pada kaki candi Siwa.
Candi Siwa ini memiliki empat pintu masuk sesuai dengan keempat arah mata angin. Pintu utama menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar. Di kanan-kirinya berdiri dua buah arca raksasa penjaga dengan membawa ganda yang merupakan manifestasi dari Siwa itu sendiri. Di dalam candi terdapat empat ruangan yang menghadap keempat arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada ditengah-tengah. Dasar kaki candi dikelilingi selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan sebelah dalam terdapat relief cerita Ramayana yang dapat diikuti dengan cara Pradaksina (berjalan searah jarum jam) mulai dari pintu utama. Hiasan-hiasan pada dinding sebelah luar berupa Kinari-kinari (makhluk bertubuh burung berkepala manusia), Kalamakara (kepala raksasa yang lidahnya berwujud sepasang mitologi) dan makhluk surgawi lainnya. Atap candi bertingkat-tingkat dengan susunan yang amat komplek masing-masing dihiasi sejumlah Ratna (batu mulia) dan puncaknya terdapat ratna terbesar.
Relung (berbentuk seperti kubah) sisi selatan terdapat arca Bhatara Guru yaitu Agastya, yang dilukiskan berdiri di atas padmasana atau singgasana. Bhatara Guru ini digambarkan sebagai pendeta yang mempunyai janggut tebal serta berperut gendut. Tangan kanannya dilipat ke depan dada dan tangan kiri memegang kendi Kamandalu. Di samping tangan kanannya terdapat tombak yang ujungnya berbentuk trisula. Tombak trisula tersebut dilukiskan dalam posisi berdiri, terlihat seperti ditancapkan pada sebuah tempat tombak. Dipundak kirinya terdapat camara. Bagian belakang arca terdapat prabhamandala yang berbentuk oval tanpa hiasan.
Relung di sisi barat terdapat arca Ganeca, dewa yang berkepala gajah ini adalah anak dewa Siwa. Arca ini dilukiskan mempunyai empat buah tangan. Tangan bagian belakang sebelah kanan membawa tasbih (aksamala) dan sebelah kiri memegang kapak kecil. Cawan berbentuk tengkorak dipegang tangan kiri depan dan patahan gading dipegang di tangan kanan depan. Ujung belalainya dimasukkan kedalam cawan itu yang menggambarkan bahwa ia tak pernah puas meneguk ilmu pengetahuan. Pada mahkotannya terdapat tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda bahwa ia anak Siwa Kepalanya memakai hiasan jata makuta yang tersusun. Telinganya dilukiskan cukup lebar, memakai upawita yang berbentuk ukar, serta ikat dada seperti untaian mutiara. Perutnya buncit. Ganeca ini tampak duduk bersila dengan kedua telapak kakinya berhadapan.
Di relung sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini. Dalam cerita rakyat setempat arca ini dikenal sebagai arca Lara Jonggrang. Arca tersebut dilukiskan berdiri di atas punggung kerbau dengan ekornya ditarik oleh salah satu tangannya. Arca Durga ini mempunyai delapan tangan. Tangan sebelah kanan memegang cakra berapi, kadga (pedang pendek), anak panah (sara) dan terdepan menarik ekor kerbau yang diinjak. Tangan kirinya memegang Sangkha bersayap, perisai (khetaka), busur serta menarik rambut asura yang berdiri di samping kirinya. Lembu yang diinjak dewi Durga ini dalam posisi mendekam ke arah kiri dan kepala kerbau diinjak oleh asura yang memegang gada. Asura ini dilukiskan berambut keriting, mata melotot dan mulut setengah terbuka. Durga tampak memakai pakaian mewah kepalanya memakai hiasan Jatamakuta dengan hiasan bunga, pada jamangnya mempunyai bentuk dasar yang melebar dan tebal. Simbarnya memakai hiasan roset
Selain itu, di sisi bagian dalam terdapat relief-relief yang menceritakan tentang kisah Ramayana[2]. Dari semua relief itu, diceritakan Rama merupakan reinkarnasi dari Dewa Wisnu. Shinta adalah istri Rama dan Laksmana adalah adik Rama, mereka berdua pergi ke hutan. Banyak peristiwa yang terjadi selama mereka dalam perjalanan ke hutan. Shinta diculik oleh Rahwana, seorang raksasa yang jahat dan dilarikan ke Kerajaan Rahwana di Alengka. Rama mendapat bantuan dari Hanoman, raja dari Kerajaan Kera. Prajurit dari Kerajaan Kera dipimpin oleh Rama bergerak ke Alengka. Bagian cerita ini sampai pada saat prajurit kera membuat jembatan yang menghubungkan ke Kerajaan Alengka.
Sedangkan Candi Brahma terletak di sebelah candi Siwa, bentuk dan ukurannya lebih kecil. Luas dasarnya 20 meter persegi dan tingginya 37 meter. Ditinjau dari segi arsitektur seperti halnya candi Siwa candi ini juga terdiri dari tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap candi. Kaki candi yang tingginya 3,30 m mempunyai hiasan yaitu sebuah relung yang berisi motif prambanan, berupa singa diapit oleh dua pohon kalpataru[3] penuh dengan bunga-bunga teratai biru, putih dan merah yang di bawahnya ada kinara dan kinari (makhluk setengah manusia setengah dewa). Badan candi Brahma berdiri di atas sebuah lapik yang sangat tinggi berukuran 2,80 m yang memiliki bagian-bagian perbingkaian bawah, dinding dan perbingkaian atas. Atap candi Brahma terdiri atas tiga tingkatan yang makin lama makin kecil ukurannya, dan diakhiri oleh suatu kemuncak dengan puncaknya sebuah amalaka tinggi dan besar.
Pada badan candi terdapat bilik candi yang di dalamnya terdapat arca Brahma. Arca dilukiskan berkepala empat yang masing-masing mukanya menghadap ke empat arah mata angin. Keempat kepala masing-masing memakai jatamakuta bersusun tiga. Bagian atasnya terdapat ikatan rambut yang berupa untaian mutiara. Demikian juga jamangnya pada setiap dahi arca terdapat hiasan roset yang amat indah. Hiasan telinganya dipahat dengan sangat indah berupa untaian yang menjulur sampai ke bahu kiri dan kanan. Tangannya berjumlah empat, kiri depan dalam posisi lurus kebawah sambil memegang kendi, tangan kiri belakang sebatas siku dilipat keatas sambil membawa camara. Demikian juga tangan kanan depan dilukiskan dalam posisi ke bawah dengan memegang suatu benda yang tidak begitu jelas, sedangkan tangan kanan belakang sebatas siku dilipat dan dilukiskan sedang memegang tasbih. Keempat tangan ini dilukiskan mengenakan gelang rangkap tiga yang berbentuk untaian mutiara. Kedua tangan depannya baik yang sebelah kiri maupun kanan memakai kelat bahu.
Dan relief yang terdapat pada candi Brahma merupakan lanjutan dari cerita Ramayana[4], tetapi ada beberapa bagian yang tidak cocok karena perbaikan candi yang rusak disebabkan gempa.
Candi Wisnu sendiri merupakan salah satu candi utama yang terletak di halaman pertama di samping candi Siwa dan candi Brahma, apabila candi Brahma terletak di sebelah kanan atau selatan candi Siwa, maka candi Wisnu terletak di sebelah kiri atau sebelah utara candi Siwa. Wisnu termasuk tokoh kedua sesudah Brahma, sedang Siwa merupakan tokoh ketiga. Di dalam mitologi India, Brahma adalah dewa perusak (prajapati). Wisnu adalah dewa pemelihara (shiti) dan Siwa adalah dewa perusak (praline). Dengan demikian, jelas bahwa candi Wisnu merupakan salah satu candi yang mempunyai arti penting disamping candi Siwa dan Brahma.
Secara vertikal bangunan candi Wisnu terdiri dari tiga bagian yaitu kaki candi, badan candi dan atap candi. Kaki candi Wisnu berdenah bujur sangkar terdiri dari dua tingkat, penampil depan di sebelah timur berfungsi sebagai pintu masuk ke bilik candi. Kaki candi tingkat I mempunyai ukuran lebih luas dari pada bagian dasar kaki candi tingkat II sehingga di bagian dasar kaki candi tingkat I berbentuk selasar yang berfungsi sebagai lorong atau jalan untuk mengelilingi badan candi. Badan candi terletak di atas kaki candi. Pada badan candi terdapat bilik candi dengan ukuran ruangan panjang 5,36 m, lebar 5,35 m dan tinggi 11,5 m. di dalam bilik candi terdapat arca Wisnu. Bagian paling atas candi yaitu atap candi. Atap candi Wisnu terdiri dari lima tingkat disusun makin ke atas makin kecil dan bagian atas setiap tingkat dihiasi dengan bentuk-bentuk amalaka kecil, sedang puncak atap berupa amalaka besar.
Arca utama pada candi Wishnu dalam posisi berdiri diatas umpak berbentuk yoni, yang dipahatkan menjadi satu dengan stela berbentuk lengkung. Jumlah tangannya ada empat, kedua tangan belakang ditekuk ke atas, kedua tangan depan terletak di kanan kiri pinggul dalam posisi sedikit ditekuk ke depan. Atribut pada tangan kanan belakang adalah cakra berbentuk lidah api, pada tangan kiri belakang adalah sangka bersayap. Pada tangan depan terdapat gada, pegangan gada terletak di sebelah atas. Pada telapak tangan kiri depan terdapat tanda khas yaitu Sriwatsa (segitiga).
Dewa ini digambarkan berkepala satu dalam posisi tegak. Perhiasan pada kepala berupa jatamakuta dengan jamang simbar lima serta sumping dan anting-anting menjulur ke bahu. Kalung terdiri dari dua untaian. Pada dada terdapat ikat dada dan upawia berupa untaian berpilin. Kainnya berupa kain panjang hingga pergelangan kaki, sampurnya dua, uncal terletak di bawah sampur. Pada kaki terdapat gelang kaki.
Dan relief yang terdapat dalam candi Wisnu menggambarkan reinkarnasi Dewa Wisnu dalam bentuk lain[5]. Cerita ini sangat populer di India tetapi kurang diketahui di Indonesia .
Candi Wahana merupakan kelompok candi yang terletak pada halaman pertama merupakan bagian terpenting setelah kelompok utama. Nama wahana mengandung pengertian kendaraan, yaitu nama binatang yang digunakan untuk kendaraan para dewa. Pemberian nama untuk kelompok candi didasarkan oleh adanya arca Nandini pada salah satu candinya yang dianggap sebagai kendaraan dewa Siwa yang terletak di depan candi Siwa. Selain candi Nandini yang terletak di depan candi Siwa, terdapat pula dua buah candi yang terletak di depan candi Brahma yaitu candi Angsa dan di depan candi Wisnu adalah candi Garuda.
Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).
Relief-relif lain yang terdapat pada candi prambanan yaitu relief burung yang nyata, relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa.
Selain candi-candi utama dan pendamping di atas, juga terdapat dua candi apit yang luas dasarnya enam meter persegi dengan tinggi 16 meter. Ruangannya kosong. Keduanya terletak di dekat gerbang masuk, mengapit dua candi, di sebelah barat dan timur candi. Setiap candi Apit mempunyai satu pintu masuk yang menghadap ke arah utara dan selatan. Bentuk dan struktur candi Apit hampir sama dengan candi yang lain di kompleks Loro Jonggrang, hanya saja bentuk candi Apit kelihatan lebih ramping dibanding candi yang lain karena bagian kaki yang lebih tinggi. Suatu hal yang menarik dari candi Apit adalah adanya gambar singa dalam posisi duduk dengan mulut terbuka lebar, salah satu singa di depan kaki sedang bangun. Dan candi yang terletak di depan setiap gerbang masuk di sebelah selatan, utara, barat dan timur merupakan candi Kelir yang berfungsi sebagai penolak balak. Candi ini tidak memiliki tangga masuk, luas dasarnya sekitar 1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter. Sedangkan candi yang terletak di setiap sudut serambi yang terbuka dari candi utama di sebut dengan candi Sudut, ukurannya sama dengan candi Kelir. Dan keempat candinyapun tidak memiliki pintu masuk. Untuk lebih riilnya kita bisa observasi langsung di candi Prambanan untuk melihat bentuk bangunan dan relief-reliefnya sekaligus menikmati keindahan candi peninggalan Hindu ini. Wallahua’lam





[1] Yaitu dengan pakaian yang indah dan lengkap serta dilengkapi dengan segala atributnya yaitu aksamala, camara, berada di tangan belakangnya, sedangkan di tangan depannya, tangan kanan mulai dari siku dilipat ke depan dada, dan dalam keadaan rusak, demikian juga tangan kiri dilipat ke depan perut, juga dalam keadaan rusak, tengkorak dan hiasan bulan sabit dikenakan di kepala dan seekor ular sebagai upawita.
[2] 1. Wicwamitra, seorang pendeta menyuruh ayah Rama untuk menghadapi raksasa jahat yang sering dating untuk mengganggu meditasinya. 2. Rama dan Laksmana membunuh beberapa raksasa. 3-4. Rama menikahi Shinta sebagai hadiah dalam kontes menggunakan panah Siwa. 5. Shinta dibawa Rama pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang mereka bertemu Paracurawa. 6-7. Karena ada masalah dengan ibunya, Rama tidak dapat mewarisi tahta. Barata menggabtikan posisi Rama, dan Rama pergi ke hutan. 8. Barata mengumumkan bahwa ia akan menjalankan tahta kerajaan atas nama Rama. Sebagai symbol ia meletakkan sandal Rama di tahta kerajaan. 9. Rama dan rombongannya memasuki hutan, mereka bertarung dengan para raksasa. 10-12. ketika sebagian rombongan pergi berburu, Shinta diculik oleh Rahwana yang menyamar sebagai brahmana. Kemudian brahmana berubah wujud menjadi Rahwana. Jatayu, raja Burung mencoba menyelamatkan Shinta tetapi gagal. 13-14. Rama bertemu Hanoman. 15. Laksmana mengambil air, yang merupakan airmata Sugriwa, seekor kera yang dibuang dari Kerajaan oleh kakaknya. 16. Rama menunjukkan keahliannya memanah kepada Sugriwa. 17. Dalam pertempuran antara Sugriwa dan kakaknya, Rama membunuh kakak Sugriwa dengan panahnya. 18. Rama menerima hadiah dari Kerajaan Kera. 19. Persetujuan untuk mengirim Hanoman ke Alengka untuk menangkap Rahwana. 20. Hanoman bertemu Shinta. 21. Hanoman tertangkap tetapi untungnya dia dapat melepaskan diri. Akhirnya Hanoman membakar Alengka, Kerajaan Rahwana. 22. Hanoman mengembalikan Shinta pada Rama. 23. Prajurit Kera berbaris di pantai ketika Rama mendapat hadiah dari dewa Laut.


[3] Dalam agama Hindu Kalpataru dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.
[4]  1-5. Menunjukkan barisan prajurit Kera, diikuti bagian pertempuran antara Rama dan Rahwana. 6-12. Pertempuran berakhir dengan matinya raksasa. Salah satu saudara Rahwana, Kumbokarno menyerang prajurit Kera. 8-9. Kumbokarno mati. Rahwana mati. Sesudah bagian ini, lanjutan cerita ditemukan di lain tempat. Singkat cerita, Shinta dikembalikan kepada Rama. Shinta menolak Rama, karena dia sudah berada di Kerajaan Rahwana. Ia ditangkap ketika hendak memasuki hutan, menyeberangi Sungai Gangga. Di ruang meditasi, Shinta menerima seorang bayi. Kemudian ia memetik bunga dengan bayinya. 25. Dua pembantu bertarung dengan raksasa. Cerita yang sebenarnya, diantara dua pembantu tersebut adalah anak Shinta yang pergi ke Kerajaan sebagai penyanyi untuk melihat ayahnya. 30. Dinamakan relief perayaan. Akhir cerita Shinta diundang ke Kerajaan Rama untuk membuktikan kesuciannya.
[5] 1-4. Anak di dalam rahim akan lahir sebagai reinkarnasi Dewa Wisnu. Kresna dapat menyelamatkan bayi yang akan lahir itu dengan mengganti dengan bayi yang lain. Kresna, nama dari bayi tersebut, lahir diantara gembala perempuan. 6. Ia menjadi sangat nakal. Raksasa perempuan mencoba memberi makan Kresna yang sebenarnya akan meracuninya. Tetapi Kresna meneguk susu sangat banyak yang menyebabkan raksasa perempuan itu mati. Raksasa lain dalam bentuk kerbau menyerang para gembala perempuan. 7. Seekor ular besar. 8. Seorang raksasa dalam bentuk seekor keledai. 9. Raksasa lain terbunuh. 10-14. Sementara Kangsa diberitahu bahwa ada dua bayi yang masih hidup. 26. Kresna membawa sebuah panah yang besar. (Relief ini tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara cerita pada masa kecil Kresna dan cerita lain tentang Kresna.)

BIOGRAFI EMILE DURKHEIM


BIOGRAFI EMILE DURKHEIM
A.  Latar belakang
Sejak awal tahun 1970-an salah satu masalah yang selau diperbincangkan para ahli ilmu sosial kita adalah perlunya apa yang disebut ‘pempribumian’ ilmu-ilmu sosial. Masalah ini muncul oleh adanya kesadaran bahwa dalam usaha untuk menangkap, memahami, dan menerangkan realitas sosial, ternyata pendekatan serta konsep dan teori-teori yang ada kurang memadai. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurang mampunya teori-teori yang tersedia itu untuk menerangkan realitas sosial yang ada.
Emile Durkheim adalah salah satu dari peletak dasar ilmu sosial modern yang paling terkemuka. namanya selalu disejajarkan dengan dua tokoh lain, yaiut Max Weber dan Karl Marx. Seperti halnya kedua tokoh tersebut, Durkheim hidup di saat peralihan sosial dann suasana krisis sedang melanda Eropa. Meskipun dia selalu tampil dengan jawaban yang berbeda dan menggunakan pendektan metodologis yang berlainan, ketiga tokoh ini mencoba mencari jawaban atas kegelisahan sosial masyarakat pada saat itu. Sebab itulah dengan mengenal Emile Durkheim, dan tulisan-tulisannya, kita tidak hanya berkenalan dengan salah satu corak pembentukan teori, tetapi juga contoh semacam pergumulan intelektual di saat peralihan sosial sedang berlangsung. Dengan demikian usaha ‘pempribumian’ ilmu soiologi akan lebih mungkin dirintis.
B.  Riwayat hidup Emile Durkheim
Teori-teori mengenai masyarakat berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Dari waktu ke waktu, teori-teori itu mengalami perkembangan dan perubahan bahkan ada yang turut tenggelam bersama dengan bertumbuhnya teori baru. Dalam konteks ini, kita tidak bisa memungkiri bahwa perubahan-perubahan teori mengenai masyarakat itu terjadi di dalam suatu masyarakat yang dinamis dengan daya mobile yang tinggi. Beragam teori mengenai masyarakat itu memperlihatkan bahwa kemampuan masyarakat untuk berubah itulah yang menjadi faktor penting dalam memahami masyarakat. Artinya, masyarakat tidak bisa dimengerti dari suatu konstruk teori, melainkan mesti dilihat secara real atau kontekstual.
Adalah Emile Durkheim yang mengemukakan teori perubahan masyarakat dengan teori pembagian kerja yang kemudian memunculkan solidaritas mekanis dan organis. Oleh sebab itulah, sebelum kita melangkah lebih jauh terhadap pembahsan soiologi, tidak salah kiranya untuk mengetahui tentang Emile Durkheim, mengingat Emile Durkheim juga termasuk salah satu dari bapak Sosiologi.
1.    Biografi
Seorang Sosiolog yang juga termasuk Bapak sosiologi adalah Emile Durkheim, dia dilahirkan di Epinal, Prancis, yang terletak di Lorraine pada tanggal 15 April 1858.  Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh, terbukti akan ayah dan kakeknya adalah pendeta Yahudi (rabbi). Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekuler. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan Ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya serta mayoritas mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih punya hubungan darah dengannya hingga membentuk sosiologi Durkheim.
Perkembangan teknologi, pertumbuhan penduduk -yang seiring dengan kenaikan pendapatan serta merta memperbesar pasaran konsumen domestik- dan makin terjadi proses konsentrasi modal, yang salah satu akibatnya ialah ‘imperialisasi modern’, merupakan beberapa peristiwa sosial ekonomi yang penting. Semua ini bukan saja menimbulkan dinamika interen, melainkan yang lebih penting lagi mengubah pula tatanan sosial. Tentu saja yang paling menonjol adalah makin pentingnya dampak politik dari kaum pekerja atau buruh, yang selama ini harus menderita akibat dari sistem kapitalisme[1].
Begitulah situasi sosial-politik dan ekonomi yang dialami Emile Durkheim pada waktu itu. Tetapi walau dia adalah penganut ‘sosiologisme’ yang kokoh (dalam arti bahwa bagi mereka masyarakat adalah suatu realitas yang sui generis) Durkheim tidak melihat revolusi sebagai cara yang bisa menghapus kapitalisme. Dia sangsi bahwa revolusi adalah cara pemecahan yang tepat dalam mengatasi masalah sosial yang sedang timbul. Ia beranggapan bahwa masyarakat memerlukan peneguhan dasar moralitas yang baru. Jadi konsesnsus yang menjadi tiang segalanya.
Durkheim menyadari akan dirinya sebagai cendekiawan yang ‘sadar dan insyaf’ akan fungsinya, bahwa dia adalah patriot sejati. Tanpa tanggung-tanggung dia meluluhkan dirinya dalam memperkuat keyakinan patriotisme Prancis ketika menghadapi Perang Dunia I. Dalam perang ini pula ia kehilangan anak satu-satunya, Andre, yang diharapkan bisa mempunyai karier ilmiah yang gemilang.
Dari tinjauan sekilas ini bisa dimengerti mengapa perhatian Durkheim ada masalah konsensus dan moralitas tak pernah pudar. Bukan saja krisis-krisis politik yang melanda Prancis dalam periode Republik Ketiga, dan terjadinya pergeseran sosial, yang menggugah kemantapan yang lama, sebagai akibat industrialisasi dan kapitalisme, melainkan keterlibatan langsung Durkheim dalam berbagai maslah sosail yang dihadapi Prancis juga ikut memainkan peranan. Dalam keterlibatan ini dia bukan saja menghirup tradisi filisofis dan akademis yang telah berakar lama, melainkan juga secara kreatif mempertentangkannya dengan realitas sosial dan hasrat normatifnya. Demikianlah disampin guru-gurunya di Ecole Normale yang telah memperkenalkannya dengan tradisi intelektual Prancis, mulai dari Descartes sampai pada tradisi pemikiran Aufklarung (masa pencerahan), khususnya Montesquieu dan Rousseau, kemudian juga Saint Simon dan Auguste Comte. Kunjungannya ke Jerman menyebabkan dirinya lebih akrab mengenal perkembangan filsafat Jerman. Dalam kunjungan ini pula dia makin mengenal Immanuel Kant. Pemikirannya mengenai moralitas didewsakan oleh perkenalannya dengan kara Kant. Dalam menghadapi berbagai masalah Durkheim juga mengadakan dialog yang cukup keras dengan para pemikir-pemikir Inggris. Dalam berdialog (tidak dalam arti harfiah) dia tidak hanya menolak dengan tegas kecenderungan individualistis Herbert Spencer, yang hanya elhat masyarakat sebagai kelanjutan dari individu, melainkan juga makin mempertajam kecenderungan sosiologistisnya. Sementara itu pula idealisme Jermannya dipertemukannya dengan kecenderungan empiristis Inggris. Begitulah, sebagaimana telah diperlihatkan sebagai studi, pada Durkheim tergabung tradisi idealisme Jerman, empirisme Inggris, dan nasionalisme dari Masa Pencerahan Prancis. Dengan demikian ia merumuskan tujuannya yang fundamental, yaitu “melanjutkn rasionalisme ilmiah pada tingkah laku manusia”.
Ketika Perang Dunia I berkecamuk, Durkheim, seperti disaat ‘Peristiwa Dreyfus’[2], kerja tanpa henti. Dia menulis karangan-karangan yang patriotik dan membuat studi tentang ‘Karakter Bangsa Jerman’. Tetapi kematian anaknya merupakan pukulan besar baginya. Pada tahun 1916 ia mulai sakit-sakitan. Selama itu pula ia mulai menyusun tulisan-tulisannya yang berupa munuskrip secara lebih teratur. Hal ini yang memungkinkan para muridnya kemudian dapat menerbitkan tulisan-tulisan itu. Pada tanggal 15 November 1917, setahun sebelum genjatan senjata, ketika ia hampir berusia 60 tahun Durkheim si calon rabbi, yang kemudian menjadi pelopor sosiologi yang etis, meninggal dunia di Fontaineblau.
2.    Pendidikan
Setelah mencoba dua kali, akhirny pada kesempatan ketiga kalinya, Durkheim diterima menjadi murid dari sekolah yang palig elitis dan terpilih di Prancis, Ecole Normale Superieur, di Paris, pada tahun 1879. Di situlah dia belajar sampai tahun 1882. Di sekolah itu ia mulai berkenalan dengan guru yang sangat dikaguminya, Fustel de Coulanges, salah seorang tokoh pelopor historiografi modern Prancis-‘Patriotisme adalah suatu kebajikan dan sejarah adalah suatu ilmu; dan keduanya jangan dicampur adukkan,” si guru ini pernah mengatakan. Dari ahli sejarah besar inilah tampaknya Durkheim mulai tertarik pada masalah konsesnsus dan peranan tradisi, bahkan bukan tidak mungkin bahwa perhatian pada “wewnang perantara” ditimbulkan oleh Fustel. Di sekoah ini ia juga belajar kepada Boutroux, seorang ahli filsafat yang memperkenalkan Durkheim dengan tulisan-tulisan Auguste Comte-suatu perkenalan yang ikut membentuk corak sumbangan Durkheim dalam dunia ilmu. Meskipun dia termasuk murid yang terpandai, tetapi nilai rata-ratanya tidaklah gemilang. Dia terlalu bosan dengan serba aturan yang dirasakannya sebagai penghambat kebebasan pencarian ilmiahnya.
Setelah menamatkan pelajaran di Ecole Normale, sampai tahun 1887, kecuali setahun ketika ia berdiam di Jerman untuk mempelajari situasi pemikiran di sana, Durkheim mengajar diberbagai Lycee. Pada tahun 1887 dia diundang untuk mengajar di Universitas Bordeaux dan pada tahun 1896 ia menjadi Profesor penuh di Universitas Bordeaux. Sampai denga tahun 1902, ketika ia akhirnya diundang ke Sorbonne (Paris). Durkheim berhasil menyelesaikan tiga dari empat buku klasiknya, dan pada tahun 1906 ia menjadi profesor ilmu pendidikan dan sosiologi di Universitas tersebut.
Dalam dunia pendidikan, Durkheim juga merupaka salah satu pemerhatinya terbukti pada saat dia mengajar di Universitas Bordeaux dia membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi (pendidikan ilmu anak-anak) dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Selain itu Durkheim juga tertarik pada bagaimana pendidikan dapat digunakan untuk memberikan kepada warga Prancis semacam latar belakang sekuler bersama yang dibutuhkan untuk mencegah anomi (keadaan tanpa hukum) dalam masyarakat modern. Dengan tujuan inilah ia mengusulkan pembentukan kelompok-kelompok profesional yang berfungsi sebagai sumber solidaritas bagi orang-orang dewasa.
Durkeim berpendapat bahwa pendidikan mempunyai banyak fungsi :
a.    Memperkuat solidaritas sosial
·     Sejarah: Belajar tentang orang-orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi banyak orang membuat seorang individu merasa tidak berarti.
·     Menyatakan kesetiaan: Membuat individu merasa bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecenderungan untuk melanggar peraturan.
b.    Mempertahankan peranan sosial
·       Sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniatur. Sekolah mempunyai hierarkhi, aturan, tuntutan yang sama dengan "dunia luar". Sekolah mendidik orang muda untuk memenuhi berbagai peranan.
c.    Mempertahankan pembagian kerja.
·       Membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Mengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereka.
3.    Karya-karya
Karya-karya Emile Durkheim yang merupakan empat buku klasik dalam sejarah perkembangan ilmu sosial, adalah:
a.    De la Division du Travail Social: Etude Des Societes Superieurs, atau dalam bahasa Indonesianya ‘Pembagian Kerja dalam Masyarakat’, buku ini terbit pada tahun 1893. Kemudian buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris pertama kali oleh George Simpson pada tahun 1933 denga judul ‘The Division of Labor in Society’ di penerbit The Free Press, New York, Amirika. Selian itu, buku ini juga merupakan tesis Durkheim dalam meraih gelar Doktornya.
b.    Les Regles de la Methode Sociologique, adalah karya kedua Emile Durkheim, buku ini terbit pada tahun 1895. Diterbitkan dalam bahasa Inggris untuk yang pertama kalinya pada tahun 1938 oleh Sarah A. Solovay dan Jhon M. Meuller dengan judul ‘The Rules of Sociological Method’ atau ‘Aturan-aturan dalam Metode Sosiologi’ di penerbit The Free Press, New York, Amirika.
c.    Pada tahun 1877, Emile Durkheim kembail menerbitkan buku yang berjudul Le Suicide: Etude de Sociologie. Dalam buku ini Durkheim mendefinisikan bunuh diri sebagai "kematian yang secara langsung atau tidak langsung merupakan hasil dari tindakan positif atau negatif dari sang korban itu sendiri". Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh John a. Spaulding dan George Simpson pada tahun 1951 dengan judul ‘Suicide: A Study in Sociology’ (Bunuh  Diri: Studi dalam Sosiologi). Buku ini diterbitkan oleh penerbit Free Press, Glencoe.
d.   Buku keempat hasil karya Emile Durkheim adalah Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse: Le Systeme Totemique en Australie (Dasar-dasar Kehidupan Agama) yang terbit pada tahun 1912. Buku ini terbit dalam bahsa Inggris pada tahun 1915 dengan judul ‘The Elementary Forms of the Religious Life: A Study in Religious Sociology’ oleh John Ward Swain, Allen, London, dan Unwin, McMillan, New York.
C.  Pemikiran Emile Durkheim
Emile Durkheim hidup di masa Perancis yang pada saat itu sedang mengalami kemerosotan moral. Maka Durkheim berusaha mencari suatu terobosan agar dapat menyatukan masyarakat Perancis melalui suatu pendidikan moral yang di ajarkan di setiap institusi pendidikan. Durkheim berargumen, dengan adanya suatu pendidikan moral maka masyarakat di Perancis dapat memadu kehidupan sosial mereka. Inilah yang menjadi kunci mengapa Durkheim sangat konservatif dan mengutamakan adanya suatu keteraturan dalam masyarakat melalui solidaritas atau integrasi. Untuk dapat mempelajari pendidikan moral, maka Durkheim menggunakan metode ilmiah sama seperti mempelajari ilmu alam. Walaupun hidup di jaman di mana sosialisme Perancis begitu kuat pengaruhnya, Durkheim tidak sepenuhnya setuju dengan konsep ini. Menurut dia, Sosialisme dapat membuat moralitas dalam suatu masyarakat menjadi tinggi namun Durkheim tidak setuju ketika konteks Sosialisme dikaitkan dengan suatu kekerasan. Dengan adanya tingkat moralitas yang tinggi, maka cita-cita Durkheim untuk membentuk suatu masyarakat yang damai, teratur, dan bebas konflik akan tercapai dengan sendirinya.
Seperti pemikiran Spencer dan Comte, Emile Durkheim juga memiliki pemikiran mengenai evolusi dari masyarakat, yaitu dari masyarakat yang solidaritas mekanik yang primitif dimana komunitas yang homogen hidup bersama tumbuh menuju solidaritas organis yang semakin heterogen, setiap orang lebih individual, dan hubungan sosial yang terjalin didasari kebutuhan dasar tiap orang. Di karyanya The Division of Labor in Society (1893-1964) ia menyimpulkan bahwa masyarakat dipersatukan terutama oleh fakta sosial berupa ikatan moralitas bersama yang disebut juga kesadaran kolektif. Durkheim mencoba untuk menjawab mengapa masyarakat dengan keberagamannya tetap bisa hidup bersama? Jawaban yang diberikannya menjadi bagian dari fungsionalismenya.
Ia beragumen bahwa keadaan seperti meningkatnya kepadatan populasi yang berasal dari imigrasi, pertumbuhan penduduk dan semacamnya menekan jarak sosial antara individu dengan hal lain seperti contohnya alat transportasi dan telekomunikasi yang merupakan kebutuhan sehingga memunculkan kompetisi untuk memenuhinya. Kompetisi yang terjadi pada akhirnya memenuhi kebutuhan masing-masing individu dan Durkheim merasa dengan menekan kompetisi dan meningkatkan kerja sama secara individual ini kebutuhan tetap dapat dipenuhi dan individu yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan. Hal tersebut dikenal dengan ‘sistem pembagian kerja’, adanya sistem pembagian kerja tersebutlah yang dimaksudkan Durkheim sebagai evolusi masyarakat. Perubahan dari solidaritas mekanik menjadi solidaritas organik, dimana dalam solidaritas ini masyarakat seperti sebuah sistem organ yang terdiri dari sub-sub sistem yang masing-masingnya mempunyai fungsi dalam menjalankan sistem organ tersebut.
Evolusi masyarakat Durkheim, menjelaskan bahwa masyarakat akan berkembang dari homogen menjadi heterogen karena kebutuhan hidupnya. Hal ini yang membuat terjadinya division of labor pada masyarakat sehingga dapat saling memenuhi kebutuhan yang beragam dan hidup berdampingan. Pada teori ini Durkheim menekankan pada tingginya tingkat moralitas sehingga dapat terjadi evolusi masyarakat yang damai.
Selain itu menurut Emile Durkheim, perkembangan masyarakat meliputi banyak perubahan-perubahan yang terjdi secara simultan pada berbagai komponen masyarakat. Suatu perubahan yang sangat penting menyangkut suatu proses urutan dari pertambahan kepadatan penduduk yang disebabkan oleh meningkatnya interaksi dan komunikasi, yang mengakibatkan semakin meningkatnya spesialisasi dalam pembagian kerja. Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja sebagai dasar untuk membuat klasifikasi masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya. Dia lebih cenderung menggunakan dua taraf klasifikasi, yaitu yang sederhadan dan kompleks. Tipe-tipe pembagian kerja tersebut dihubungkan dengan tipe-tipe solidaritas. Artinya masyarakat sederhana dan kompleks, kesatuan dan keutuhannya dipertahankan dengan berbagai cara. [3]
Apabila dalam pembagian kerja terdapat sedikit diferensiasi, maka solidritas didasarkan pada homogenitas; artinya, masyarakat sebenaranya sejenis atau sama. Dengan perkataan lain, masyarakat mempunyai cita-cita dan nilai-nilai yang sama. Kepribadian dari masing-masing merupakan pencerminan mikroskopis dari masyarakat. Oleh karena itu, maka secara relatif tidak terdapat kualitas-kualitas pribadi yang dapat memisahkan pribadi dari kolektiva. Durkhem menyebut solidaritas tersebut dengan solidaritas mekanis. Intinya solidaritas mekanis didasarkan pada homogenitas moral dan sosial, sehingga berciri; tradisional, non individualistik (komunal), keadilan kolektif, properti bersifat komunal, kehendak komunitas mendominai kehendak individu, kekerabatan, lokalisme, sakral.
Apabila pembagian kerja bertambah kompleks, maka kapasitas masyarakat semakin meninggi, akan tetapi dasar homogenitas ditransformasikan. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling bergantung, antara bagian-bagian masyarakat yang telah mengenal pengkhususuan itu Durkheim menyebutnya dengan solidaritas organis. masyarakat didasarkan pada individu-individu dengan fungsi yang berbeda yang dipersatukan oleh peran-peran komplementer. Sehingga berciri; personal, kesamaan kesempatan serta kesederajatan, regulasi kooperasi serta pertukaran, keseimbangan tugas dan kewajiban dan, otonomi berserikat.
D.  Kesimpulan
Emile Durkheim dilahirkan di Epinal, Prancis, yang terletak di Lorraine pada tanggal 15 April 1858.  Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh. Ayah dan kakeknya adalah pendeta Yahudi (rabbi). Dia meninggal pada tanggal 15 November 1917 ketika dia hampir berumur 60 tahun, setelah sebelumnya dia mulai sakit-sakitan pada tahun 1916.
Dalam hal pendidikan, Durkheim pernah menempuh studi di Prancis, Ecole Normale Superieur, di Paris, pada tahun 1879 sampai pada tahun 1882. Setelah menamatkan pelajaran di Ecole Normale, sampai tahun 1887, kecuali setahun ketika ia berdiam di Jerman untuk mempelajari situasi pemikiran di sana, Durkheim mengajar diberbagai Lycee. Pada tahun 1887 dia diundang untuk mengajar di Universitas Bordeaux dan pada tahun 1896 ia menjadi Profesor penuh di Universitas Bordeaux. Sampai denga tahun 1902, ketika ia akhirnya diundang ke Sorbonne (Paris). Durkheim berhasil menyelesaikan tiga dari empat buku klasiknya, dan pada tahun 1906 ia menjadi profesor ilmu pendidikan dan sosiologi di Universitas tersebut.
Karya-karyanya adalah De la Division du Travail Social: Etude des Societes Superieurs pada tahun 1893, Les Regles de la Methode  Sociologique pada tahun 1859, Le Suicide: Etude de Sociologie pada tahun 1877, dan Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse: Le Systeme Totemique en Australie pada tahun 1912. Buku tersebut merupakan empat buku klasik dalam sejarah perkembangan ilmu sosial.
Pemikiran Emile Durkheim mengenai evolusi dari masyarakat, yaitu dari masyarakat yang solidaritas mekanik yang primitif dimana komunitas yang homogen hidup bersama tumbuh menuju solidaritas organis yang semakin heterogen, setiap orang lebih individual, dan hubungan sosial yang terjalin didasari kebutuhan dasar tiap orang, yaitu dengan menekan kompetisi dan meningkatkan kerja sama secara individual sehingga kebutuhan tetap dapat dipenuhi dan individu yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan. Hal tersebut kemudian dikenal dengan istilah ‘Sistem Pembagian Kerja’.

DAFTAR PUSTAKA
Soekanto. Soerjono ,1982, Teori Sosiologi tentang Pribadi Dalam Masyarakat, Jakarta: Ghalia Indonesisa
Abdullah. Taufik dan A.C. Van Der Leeden, 1986, Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia





[1] Taufik Abdullah dan A.C. Van Der Leeden, Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986), hl:6
[2] Dalam peristiwa itu (1896-1898) masyarakat cendekiawan dam politik Prancis terpecah menjadi duakelompok yang saling bermusuhan. Peristiwa ini bermula dari terbongkarnya skandal di Markas Besar tentara Prancis dengan hilangnya dokumen-dokumen militer, yang dalam pengusutan dilakukan secara tidak jujur, seorang opsir keturunan Yahudi dituduh sebagai pelakunya. Dia dibuang ke pulau Setan. Namun pemeriksaan selanjutnya dia terbukti memang tidak bersalah.
[3] Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi tentang Pribadi Dalam Masyarakat, (Jakarta: Ghalia Indonesisa, 1982), hl:190